Posted by Musfar on Dec 19, '06 10:17 PM for everyone | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
FADE IN
01. EXT : SEBUAH BANGUNAN : SIANG
Gedung ini berukuran sedang, berada pada sebuah jalan yang lumayan ramai. Gedung ini adalah - sebagaimana tertulis pada papan namanya - KURSUS PENGEMBANGAN KEPERIBADIAN MR.BUSH.
Tampilkan sejenak sosok gedung ini dengan papan namanya seraya ZOOM-IN menuju ke jendela suatu ruangan. Sementara itu dari dalam gedung sudah terdengar dialog.....
OS INSTRUKTUR Memang sepintas makan itu seperti urusan transportasi. Memindahkan makanan dari piring ke dalam perut. Tapi, lebih dari itu, makan menyangkut segi etika dan estetika. Ada adabnya, ada seninya, tidak makan asal makan, tidak kenyang asal kenyang......
02. INT : SEBUAH RUANGAN : SIANG
Ini ruangan tempat kursus pengembangan keperibadian. Instruktur sedang berbicara di hadapan sekitar lima belas peserta kursus yang kebanyakan perempuan. Sementara itu dua orang pembantu instruktur sedang menyiapkan meja korsi serta hidangan sop untuk latihan.
Tokoh kita ROS dan BU BAMBANG termasuk peserta kursus ini. Yang begitu apresiatif terhadap kemajuan….
INSTRUKTUR Agar tidak membuat kacau dan bingung maka dibuatlah standarisasi dalam acara makan-memakan...., maksud saya, dalam acara menyantap hidangan ini. Sebagaimana hal-hal lainnya, standar ini kita impor dari Barat.....
Dua pembantu instruktur sudah selesai menyiapkan segala sesuatunya. Sop yang mengepul dan peralatan pendu-kungnya. Kemudian kedua pembantu ini keluar.
INSTRUKTUR Nah, marilah kita mulai dengan praktek pelajaran makan sop.
Instruktur memberi isyarat agar para peserta maju mendekati meja.
INSTRUKTUR Mari, Bapak-bapak dan Ibu-ibu.
Para peserta kursus bangkit dari korsi masing-masing lalu menuju ke depan merubungi meja tempat sop panas mengepun-ngepul.
INSTRUKTUR Baiklah, siapa yang mau mencoba?
Melihat semangkuk sop yang mengepul mengundang selera, para peserta kursus berebut mengacungkan tangan.
PARA PESERTA: (BEREBUTAN) Saya! Saya!
Rupanya Instruktur melihat BU BAMBANG begitu ber-semangat.
INSTRUKTUR Ya, Bu Bambang, mari!
BU BAMBANG, diiringi gerutuan para peserta kursus yang kecewa karena tak ditunjuk, segera duduk menghadap meja dimana sudah terdapat semangkuk sop panas, sendok, garpu, pisau, roti, serta lap tangan/serbet.
INSTRUKTUR Ya, baik kita mulai. Pertama, duduklah dengan enak dan rileks.
BU BAMBANG memperbaiki duduknya. Lebih mendekatkan korsi ke meja.
INSTRUKTUR Lalu, seka mulut dengan lap tangan yang tersedia.....
BU BAMBANG melakukan apa yang dikatakan instruktur.
INSTRUKTUR Dan kemudian letakkan di pangkuan.
Kembali BU BAMBANG mengikuti petunjuk.
INSTRUKTUR Nah, ceritanya tuan rumah sudah menyi-lahkan. Bu Bambang boleh mulai menikmati supnya.
BU BAMBANG meraih sendok, lalu dengan tangan agak gemetar mulai menyendok sup dari bagian tengah mangkuk.....
INSTRUKTUR Stop, stop! Keliru, Bu.
BU BAMBANG dan para peserta kursus lainnya memandang ke instruktur. Apanya yang salah?
INSTRUKTUR Menyendok sup itu harus dari pinggir mangkuk...Menyendok di tengah mangkuk mengesankan kita rakus.
Mendengung suara para peserta yang membenarkan kata-kata instruktur.
INSTRUKTUR Nggak usah terburu-buru, Bu. Kalem saja. Nah, coba.
Kini BU BAMBANG menyendok sop dari pinggir mangkuk lalu perlahan mendekatkannya ke mulut dan.... sruuuuut mulut BU BAMBANG menyeruput sop yang panas itu.
INSTRUKTUR Ah, belum mulus benar, Bu. Seharusnya mulut tidak boleh berbunyi.
BU BAMBANG (MERINGIS) Panas.
INSTRUKTUR Makanya pelan-pelan. Kalem saja, Bu.
Tanpa disuruh lagi BU BAMBANG mencoba lagi, dan kini tampaknya lancar-lancar saja, walau setengah mati ia menahan panasnya sop.
INSTRUKTUR Naah, begitu kan bisa.
Para peserta kursus bertepuk tangan riuh. Seorang ibu hanya bisa menelan ludah.
INSTRUKTUR Sekarang rotinya dimakan, Bu.
Setelah tampak bingung sejenak BU BAMBANG akhirnya meraih pisau lalu bermaksud mengiris roti......
INSTRUKTUR Ah, Bu Bambang, masa lupa? Pisau bukan untuk memotong roti, tapi untuk mengoleskan mentega. Rotinya disobek saja pakai tangan, Bu.
Dengan senyum kecut BU BAMBANG mengikuti petunjuk Instruktur. Sementara itu seorang bapak yang berdiri di dekat rekannya, juga seorang bapak, berbisik.
BAPAK X: (BERBISIK) Saya nggak nyangka lho kalo makan sop itu sulit.
03.EXT : JALAN DEPAN RUMAH : SORE
AYUB yang pulang kerja, berpakaian rapi seragam karya-wan Pemda dan menenteng tas kerja.
Sebelum AYUB membelok masuk ke pekarangan rumahnya langkahnya terhenti. Perhatiannya tertuju pada papan nama sederhana yang berdiri doyong dan terbalik di samping pintu masuk halaman rumah. AYUB membalikkan dan menegakkan papan nama, maka tampaklah tulisan di papan nama : SEDIA TELUR AYAM KAMPUNG
AYUB kemudian terus masuk ke arah rumah.
04.INT : DAPUR : SORE
IMAH, pembantu (pembantu ini pulang pergi), sedang memasak. Sambil kerepotan menggendong anaknya. AYUB yang sudah berganti pakaian masuk.
AYUB Kamu masak apa, Mah?
IMAH menoleh.
IMAH Sayur asem.
AYUB Yah, gitu. Yang gampang saja.
IMAH tertawa.
IMAH Saya harus buru-buru balik, Pak.
AYUB Nggak apa-apa.
AYUB mencubit pipi anak si IMAH.
AYUB Bapaknya si Husin ada di rumah, ya?
IMAH tersipu.
AYUB Ya, sudah. Kamu pulang saja. Kasian si Jaja.
IMAH menunjuk sayur di atas tungku.
IMAH Ini belum masak, Pak.
AYUB Kan tinggal ditunggu. Aku bisa, kok.
IMAH tersenyum. Akhirnya beranjak ke pintu, tapi segera teringat...
IMAH Aduh, saya lupa..... Tempe sama ayamnya belum saya goreng.
AYUB Sudah, sudah.... Nanti aku yang selesaikan. Kamu tahu kan, di rumah aku biasa masak?
IMAH tersenyum. Lalu pergi.
CUT TO
Langsung adegan AYUB sedang menggoreng tempe. Tampak kalau AYUB biasa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi soal peran ganda, ia sudah melaksanakan.
05.EXT : HALAMAN BELAKANG : SORE
Halaman lumayan luas. Sepanjang dinding belakang ada kandang ayam. Ada yang gabung, ada yang bersusun, dan juga ada kurungan ayam.
AYUB keluar dari pintu belakang rumahnya, berkaos oblong dan bercelana kolor, menenteng ember plastik tua, agak belepotan, berisi makanan ayam.
AYUB lalu memberi makan pada ayam-ayamnya. Riuhlah suara ayam yang makan dengan lahap.
AYUB memberi makan ayam-ayamnya, seraya bicara....
AYUB Ayo, makan yang banyak. Biar ber-telurnya juga banyak.
Seekor babon tak mau makan. Murung.
AYUB Lho, ini kok tidak mau makan?
AYUB meletakkan ember makanan, lalu mengeluarkan si ayam betina.
AYUB meneliti mata dan mulut/paruh ayamnya, kemudian juga, maaf, lubang duburnya.
AYUB Wah, sakit ini.
Lalu AYUB memindahkan babon yang sakit ke bagian lain dari kandang dan memasukkannya.
06. EXT : JALAN DEPAN RUMAH : MALAM
Sebuah taksi berhenti di depan rumah. ROS turun dari taksi. Sebelum masuk rumah dibaliknya papan nama (SEDIA TELUR AYAN KAMPUNG) menghadap ke dalam sehingga tak terbaca oleh orang dari jalan.
ROS kurang sreg dengan kegiatan suaminya memelihara ayam dan menjual telur.
Setelah itu ROS masuk ke dalam rumah.
07. INT : RUANG TENGAH : MALAM
( Ruang tengah ini cukup lebar, merangkap juga ruang makan. Ada seperangkat meja korsi makan, beberapa korsi lainnya, lemari, televisi, dan lain sebagainya. Dari ruang tengah ini ada pintu ke kamar tidur, lorong ke kamar tamu, pintu belakang, dan dapur ).
Tampak AYUB, masih bercelana kolor dan beroblong, sedang makan malam dengan lahap. Ia makan nasi di piring dengan sayur dan lauk-pauk masih dalam rantang. Dan AYUB makan dengan tangan (tak memakai sendok dan garpu).
CUT TO
Tiba-tiba istrinya, ROS, yang baru pulang dari sekolah pengembangan kepribadian, muncul dari arah pintu belakang.
ROS Aduh, Baaang....Makannya kok begitu? Terus pakaian Abang juga, masa hanya pakai kaos oblong dan celana kolor?
AYUB terkejut bukan alang kepalang. Sikapnya lalu seperti orang yang kepergok melakukan perbuatan yang memalukan. Ia segera mencuci tangannya, lalu berganti haluan makan dengan sendok dan garpu, seraya menggerutu....
AYUB Roos, ini kan di rumah sendiri.
ROS Di rumah sendiri, rapi sedikit kenapa, sih?
Sementara itu ROS yang menenteng tas kecilnya serta sekotak pizza, meletakkan kotak pizza di meja makan.
ROS Makan itu kan bukan sekedar memasukan makanan ke perut, Bang. Ada aturannya, ada tata-tertibnya, malahan juga ada seninya.
Selesai menelan, AYUB bicara.
AYUB Tapi kalau di rumah sendiri kan boleh tidak memakai aturan itu.
ROS yang hendak masuk ke kamar, balik lagi untuk memberi penjelasan.
ROS Kalau Abang tak membiasakan diri di rumah bagaimana bisa bertindak benar di tempat resmi?
AYUB bicara sementara mengunyah makanan.
AYUB Lagipula aku nggak pernah ke tempat seperti itu.
ROS segera memperingatkan.
ROS Eh, Abang jangan ngomong dulu kalau lagi mengunyah.
Maka cepat-cepat AYUB menelan makanan dimulutnya karena hendak bicara. Sampai-sampai ia membeliak karena makanan yang ditelannya belum lunak benar.
AYUB hanya bisa kesal memandang isterinya. Lalu kembali AYUB menyuap dan mengunyah perlahan-lahan, takut membuat kesalahan. ROS pun senang melihatnya.
ROS Naaah, begitu dong.
ROS lalu masuk ke kamar. AYUB menggeleng-geleng seraya memandang kesal ke arah kamar.
Karena isterinya sudah masuk kamar, AYUB menggunakan kesempatan itu untuk mencomot lauk dari rantang dengan tangannya, namun tangannya hanya sempat sampai ke mulut rantang karena tiba-tiba ROS muncul lagi.
ROS Eh, Bang. Bu Bambang akan mendirikan perusahaan eksportir barang kera-jinan.....
ROS mendekati meja makan.
ROS Saya ditawari untuk mengelolanya. Tapi, rasanya saya kok belum mantap. Mungkin saya harus ambil MBA dulu, Bang.
Mendengar isterinya yang mau ngambil MBA, AYUB yang sedang menelan makanan terkejut, terbeliak, namun secepatnya ia kembali bersikap biasa. Sementara itu ROS kini duduk.
ROS Bagaimana menurut Abang?
Karena sedang mengunyah makanan maka AYUB tak dapat memberi tanggapan. Sementara itu ROS mencomot pizza.
ROS Bagaimana, Bang? Apakah saya ambil saja kesempatan itu atau saya ambil MBA dulu?
(XCU) mulut ROS yang mengunyah pzza dengan santun. Hasil dari kursus pengembangan keperibadian.
AYUB masih belum memberi komentar karena masih sedang makan.
ROS Tapi kalau saya ambil MBA dulu, jangan-jangan kesempatan ini lewat begitu saja. Kesempatan baik kan tidak datang segtiap saat. Bagaimana, Bang?
AYUB melakukan suapan terakhir. (XCU) pula mulutnya yang mengunyah makanan. Begitu hati-hati agar tak dikritik isterinya.
ROS Abang ini bagaimana, sih? Istri bicara kok tidak ditanggapi?
AYUB segera menelan makanannya, lalu cepat-cepat minum air putih.
ROS Apa tidak senang, tidak bangga, isteri sendiri mendapat kesempatan baik seperti ini?
Akhirnya AYUB tersedak karena buru-buru minum. Dan bicara agak tersengal-sengal.
AYUB Ros, aku senang, aku juga bangga isteriku akan jadi direktur perusahaan. Jadi, nggak ada masalah.
ROS tersenyum, senang dengan dukungan suaminya.
ROS Trims, Bang.
FADE OUT
08.INT : RUANG KERJA KANTOR PEMDA : SIANG
AYUB dan temannya, JOKO, yang sama-sama pegawai Pemda bersiap hendak keluar ruangan untuk istirahat. Karyawan lainnya pun beranjak keluar.
JOKO Sejak Bang Ayub kawin kita tidak pernah mancing lagi, ya?
AYUB tersenyum.
AYUB Kebetulan saja Mas Joko.
JOKO Pasti sibuk ngurus isteri.
AYUB Ah, nggak. Isteri saya itu bukan model isteri yang senang diurus-urus.
JOKO Kalau begitu, isteri Bang Ayub itu memperkenalkan Bang Ayub dengan hobi baru yang lebih asyik.
AYUB Nggak juga. Yang asyik itu ya tetap mancing, Mas. Hanya kebetulan nggak sempat aja.
JOKO Besok kan libur. Nanti malam kita mancing, ya? Mancing malam-malam asyik. Lele, belut, keluar semua.
AYUB Entah joran saya masih ada atau tidak.
JOKO Yang penting Bang Ayub belum lupa cara mancing.
AYUB Lupa sih nggak. Tapi....
JOKO tersenyum. Ia menduga sebab-sebab keengganan temannya ini.
JOKO Pokoknya tenang saja. Saya yang ngomong sama nyonya Ayub.
AYUB tertawa kecut.
AYUB Bukan masalah bini saya, Mas. Saya punya kesibukan.
JOKO Apa?
AYUB Saya kan piara ayam.
JOKO lantas tertawa.
JOKO Dari dulu Bang Ayub kan piara ayam. Dan Bang Ayub tak pernah merasa keberatan meninggalkan ayam-ayam Bang Ayub. Hanya setelah Bang Ayub kawin....
AYUB menyela.
AYUB He, saya bilang nggak ada hubungannya.
JOKO Kalau begitu...
AYUB Oke, kita mancing.
Maka JOKO tersenyum senang.
JOKO Nah, gitu dong.
09.EXT : JALAN : SORE
Tampak AYUB yang pulang kerja, menenteng tas kerja, hendak masuk halaman rumahnya. Seperti biasa ia memperbaiki papan nama yang terbalik (dibalik isterinya) sehingga tulisan 'SEDIA TELUR AYAM KAMPUNG' kelihatan. Barulah AYUB masuk ke rumahnya.
10.INT : RUANG TENGAH : SORE
AYUB bersiul-siul mendekati meja makan, meletakkan tas kerja, membuka tutup hidangan, dan siulan AYUB pun terhenti melihat tak ada apa-apa di bawah tutup hidangan. AYUB lalu masuk ke kamar tidur.
11.INT : KAMAR : SORE
AYUB mendapati isterinya ROS sedang berdandan dan berhias didepan meja rias.
AYUB Si Imah tidak datang?
ROS Tadi datang. Tapi saya suruh pulang lagi.
AYUB Kenapa?
ROS Kita ada undangan. Ada cocktail-party di rumah Bu Bambang.
AYUB Cocktail-party?
ROS Ya, bersiaplah. Itu pakaian Abang sudah saya siapkan.
AYUB menoleh, melihat stelan jas dan celananya yang terlipat rapi diatas pembaringan. Wajah AYUB jadi kecut.
AYUB Tapi, kenapa aku harus ikut?
Tetap di depan meja riasnya ROS berkata tanpa menoleh.
ROS Menemani saya.
AYUB Kau kan tahu, aku tak bisa hadir di lingkungan teman-temanmu yang cang- gih dan trendy itu.
Karena kesal akhirnya ROS menoleh.
ROS Apa saya bilang, Abang harus ikut kursus pengembangan keperibadian agar hilang rasa rendah diri Abang itu.
AYUB Aku bukan minder. Di situ memang bukan tempatku.
ROS yang sudah rampung berhias bangkit dan mendekati suaminya.
ROS Tempat siapa? Sedangkan Bu Bambang meminta agar yang hadir membawa pasangan masing-masing, isteri atau suami masing-masing. Apakah saya akan hadir dengan suami orang?
AYUB diam, kecut. ROS menambahkan.
ROS Pak Bambang juga mau kenalan dengan Abang.
AYUB Pensiunan pejabat tinggi itu?
ROS Ya.
AYUB Ada urusan apa?
Seraya ROS mendekati suaminya.
ROS Lho, kok ada urusan apa. Ya, mau kenalan.
AYUB Tapi...
ROS Lazimnya orang biasa yang mau kenalan dengan pejabat tinggi. Nah ini pejabat tinggi yang mau kenalan sama Abang. Abang masih mau nolak?
AYUB Tapi, aku lapar, Ros. Belum makan.
ROS Tahan sedikit. Saya juga belum makan.
AYUB Lalu ayam-ayam kita itu, siapa yang akan kasi makan nanti?
ROS geregetan mendengar alasan suaminya.
ROS Ayam-ayam itu kan sudah dikasi makan tadi pagi. Makan malam telat sedikit kan nggak apa.
AYUB O ya, aku ada janji mau mancing sama teman sore ini.
Kini ROS betul-betul marah. Ia pikir AYUB lagi-lagi cari alasan.
ROS Oh, Baang! Kenapa Abang bikin alasan macam-macam?! Kalau tidak mau, ya sudah!! Saya pergi sendiri!
Melihat isterinya marah begitu, cukup membuat AYUB kalang kabut.
AYUB Ya ya, saya ikut.
ROS Gara-gara ayam itu Abang tidak pernah merasa aman meninggalkan rumah. Coba kita piara anjing!
AYUB lalu buru-buru keluar kamar.
12.EXT : JALAN : SORE
JOKO bercelana pendek, memakai rompi, bertopi, bersandal jepit tebal, membawa dua joran, berjalan ke arah rumah AYUB. Ia siap pergi mancing dengan AYUB, sesuai janji.
AYUB yang rapi berjas dan isterinya ROS keluar dari rumah.
AYUB yang melihat kedatangan JOKO jadi kecut. ROS juga melihat kehadiran JOKO, maka ia segera menegur.
ROS Lho, Mas Joko?
JOKO Iya.
ROS Mau kemana, ini?
JOKO senyum kecut. Bukankah ia kan pergi mancing dengan AYUB? Apakah AYUB tidak bilang?
JOKO Mm....beginilah, iseng.
ROS yang segera tahu kalau kedatangan JOKO untuk mengajak suaminya, segera menyelamatkan situasi....
ROS Anu, Mas Joko, ada undangan acara cocktail-party. Bang Ayub nya harus ikut.
JOKO Oo..kok.., apa tadi?
ROS Cocktail-party.
JOKO Ya ya, koktel...
Seraya JOKO mengangguk-angguk. Sementara AYUB menggaruk-garuk kepalanya.
ROS menoleh ke suaminya, AYUB....
ROS Mm, kalau Abang mau mancing nggak apa-apa....
JOKO Nggak, nggak.... Nggak apa-apa. Mancing-nya kapan-kapan saja. Nggak penting sekali. Koktel apa itu tadi? Itu yang penting.
Kembali AYUB senyum kecut.
13.EXT : JALAN : MALAM
Banyak mobil pribadi yang parkir di halaman rumah dan di tepi jalan depan rumah BU BAMBANG. Beberapa mobil juga datang kemudian. Tampak dari jalan, BU BAMBANG dan PAK BAMBANG menerima para tamu di depan pintu ruang tamu rumahnya. Kemudian tampak PAK BAMBANG masuk, tinggal BU BAMBANG di depan pintu menunggu tamu berikutnya.
Sementara itu sebuah taksi datang dan berhenti. AYUB dan istrinya turun. Taksi lalu pergi. AYUB dan ROS melangkah, namun kemudian....... ROS Eh, sebentar, Bang.
Rupanya ROS melihat sisiran suaminya yang kurang rapi. ROS membuka tasnya mencari sisir, lalu memberikannya pada suaminya.
ROS Rapikan sisirannya, Bang.
Dengan lugu AYUB menyisir rambutnya. ROS memperhatikan keseluruhan pnampilan suaminya, lalu merapikan bahu jas yang agak miring sebelah.
Kelihatannya seperti ‘melayani’ suami. Tidak, tindakan ROS adalah untuk memastikan agar dirinya tidak dipermalukan di depan umum.
CUT TO
Terlihat dari jalan AYUB dan ROS diterima oleh BU BAMBANG. Begitu AYUB, ROS, dan BU BAMBANG masuk ke dalam ruangan.
14.INT : RUANG TAMU : MALAM
( Ruang tamu yang menyatu dengan ruang bagian dalam rumah BU BAMBANG ini luas dan lapang. Diatur untuk kebutuhan cocktail-party ).
Sekitar lima belas pasangan suami isteri yang hadir. Karena ini cuma cocktail-party maka para tamu berpakaian non formal. Para Bapak menggunakan pakaian batik ataupun tenun ikat. Hanya AYUB yang tampil lengkap dengan jas dan dasinya. Maka kehadirannyapun tampak menyolok. Ini tak begitu disadari oleh ROS yang segera bergabung dengan ibu-ibu, namun amat dirasakan oleh AYUB sendiri.
Para tamu dan tuan rumah, membentuk kelompok bicara yang terdiri dari tiga, empat, atau bahkan lima orang. Riuh dalam topik pembicaraan masing-masing, yang tak lepas dari pembicaraan bisnis, seraya sekali meneguk minuman dari gelas yang di pegang.
AYUB celingak-celinguk, merasa asing dan kebingungan. Akhirnya memisahkan diri, keluar ke teras.
15.EXT : TERAS SAMPING : MALAM
AYUB membawa minumannya ke teras yang teduh dan asri ini, menyendiri. Sebentar-sebentar AYUB meneguk minum-
annya. Sementara itu dari dalam sayup terdengar riuh suasana.
16.INT : RUANG TAMU : MALAM
PAK BAMBANG mendekati ROS yang sedang bicara dengan Ibu-ibu.
PAK BAMBANG Lho, mana suami dik Ros?
ROS pun celingak-celinguk.
ROS Kemana, ya? Dia pakai stelan jas, Pak. PAK BAMBANG Ya biar, dik. Biar saya cari sendiri.
PAK BAMBANG pun celingak-celinguk mencari AYUB. Apa lagi ia belum kenal.
17.EXT : TERAS SAMPING : MALAM
AYUB berdiri membelakangi pintu. Tercenung sendiri. PAK BAMBANG muncul seraya senyum.
PAK BAMBANG Anda senang menyendiri rupanya.
AYUB membalikkan badannya. Mencoba tersenyum. AYUB belum mengenal PAK BAMBANG ini.
AYUB Oh, iya, Pak. Saya agak pusing tadi maka saya keluar menghirup udara segar.
PAK BAMBANG Saya juga agak puyeng. Di dalam semua orang berbicara soal bisnis, padahal tujuan pertemuan semacam ini...., saya kira, untuk sekedar bersantai dan menjalin keakraban.
AYUB Ya ya....
PAK BAMBANG Mungkin karena yang hadir adalah para bisnismen sejati, sehingga mereka tidak melewatkan setiap peluang.
AYUB Betul, betul.
PAK BAMBANG Dan Bung Ayub ini tampaknya bukan termasuk kelompok itu.
Heran juga Ayub, orang ini mengenal namanya. PAK BAMBANG lalu mengulurkan tangannya.
PAK BAMBANG Kenalkan, Bambang.
AYUB terkejut. Tak menyangka inilah sang tuan rumah. Yang pensiunan pejabat tinggi itu.
AYUB O, Pak Bambang. Saya Ayub......
AYUB lalu menjabat tangan PAK BAMBANG.
PAK BAMBANG Suaminya dik Ros, kan?
AYUB Ya, ya, betul.
PAK BAMBANG Rupanya ketika Dik Ayub datang tadi, saya lagi ke belakang sehingga kita belum sempat kenalan.
AYUB senyum. Bahunya kemudian dirangkul PAK BAMBANG.
PAK BAMBANG Ayo kita ke belakang. Disini bising.
Mereka berdua lalu menuruni teras melintasi halaman.
18.INT : RUANG TAMU : MALAM
Masih suasana coctail-party. Kini kita perhatikan sekelompok ibu-ibu yang sedang berbicara, termasuk di sini BU BAMBANG yang didampingi ROS.
BU A Gampang, ya?
BU BAMBANG Nggak juga. Selain menyangkut pe-ngetahuan mengenai prosedur yang berlaku, dituntut juga kepekaan melihat situasi yang sedang terjadi disekeliling kita. Kepekaan ini yang sulit, ya nggak dik Ros?
ROS Betul, Bu. Seumpama kita mancing, kelihatannya mudah. Tinggal ambil joran lalu pasang umpan dan lemparkan ke air. Tapi tidak sesederhana itu masalahannya. Kita ini mau mancing apa? Ikan paus atau ikan gabus? Kalau mau dapat ikan besar, ya umpannya juga harus besar.
ROS dan BU BAMBANG tertawa renyah, sedang para ibu yang mengelilinginya mantuk-mantuk.
19.INT : TERAS BELAKANG : MALAM
Kita dapati AYUB dan PAK BAMBANG sedang bicara serius tentang sesuatu yang menarik perhatian mereka berdua. Kita lihat PAK BAMBANG memegang joran (tangkai pancing) yang bagus.
PAK BAMBANG Selain soal besar kecilnya umpan, kita juga harus paham jenis ikan yang menjadi target. Apa jenis permukaan atau yang di kedalaman.
AYUB antusias menanggapi.
AYUB Kalau saya, ya Pak, tak pernah peduli soal jenis ikannya. Pokoknya kalau ikannya lapar, dia akan samber itu umpan, biar kita taruh di permukaan atau di kedalaman......
PAK BAMBANG Dik Ayub biasa mancing di mana?
AYUB Ya, di sungai, di kolam, bahkan di selokan depan rumah ketika banjir.
PAK BAMBANG Oo, pantas. Tapi ya dik Ayub, kalau kita mau mancing serius, hal itu harus kita perhatikan. Setiap ikan itu punya kebiasaan, tergantung lingkungannya. Seperti pengalaman saya mancing di Swiss. Ada ikan, namanya ikan chub, ikan ini jenis permukaan, hanya bisa dipancing dengan kupu-kupu yang masih hidup. Nah, ikan-ikan lainnya seperti pike, perch, dan burbot, lebih suka di dasar sungai.…
AYUB tak mau kalah.
AYUB Ya, bisa jadi kalau di Swiss. Tapi kalau di sini, di Indonesia, seperti yang saya katakan tadi, ikan-ikannya main sikat saja di manapun umpannya berada. Makanya mancing di sini paling enak.
PAK BAMBANG tertawa mendengar keterangan AYUB. Ketika itu seorang pembantu muncul.
PEMBANTU Sudah siap, Pak.
Pembantu pergi. PAK BAMBANG bangkit, menarik tangan AYUB.
PAK BAMBANG Ayo, kita makan.
AYUB Terima kasih, Pak. Sudah tadi.
PAK BAMBANG Biar sudah. Lagi.
AYUB masih bertahan.
AYUB Sungguh, Pak. Sudah.
PAK BAMBANG menarik AYUB.
PAK BAMBANG Iya, saya tahu. Tapi, lagi.
Akhirnya AYUB bangkit juga, mengikuti PAK BAMBANG ke ruang makan.
20.INT : RUANG BELAKANG : MALAM
Dengan agak sungkan AYUB mengikuti PAK BAMBANG duduk menghadapi meja makan yang telah siap dengan hidangan lengkap makan malam.
PAK BAMBANG Ayo, dik Ayub.
AYUB mulai menyendok nasi. Sedikit saja.
PAK BAMBANG Lho, kok sedikit?
AYUB Cukup, Pak. Nanti nambah lagi.
Kemudian PAK BAMBANG menyendok nasinya. AYUB mulai meraih sendok dan garpu. Agak tercengang ia melihat PAK BAMBANG tidak memakai sendok dan garpu, melainkan mencelupkan tangannya di kobokan. Maka AYUB ikut-ikutan mencuci tangan di kobokan. Lalu mereka mulai makan dengan tangan.
PAK BAMBANG mengulurkan mangkuk lauk-pauk pada AYUB.
PAK BAMBANG Ayo, disikat saja, Dik.
21.EXT : SEBUAH JALAN : MALAM
Jalan sudah mulai lengang dan sepi. Kita lihat AYUB dan ROS berjalan bergegas. Mereka mencari warung.
ROS Ayo cepat! Saya lapar.
AYUB tertawa.
ROS (MENGGERUTU) Aku tidak tahu kalau coctail-party itu nggak ada acara makannya.
AYUB makin tergelak-gelak.
FADE OUT
22. EXT : JALAN DEPAN RUMAH KEL.BAMBANG : PAGI
Sebuah taksi datang dan berhenti di depan rumah. ROS turun, berpakaian sport, menenteng tas sport pula.
Menyusul kemudian AYUB turun menenteng joran/tangkai pancing dan tempat umpan. Sedang kostum yang dipakainya adalah kostum mancing rekaan isterinya, yaitu tak lebih dari seragam main tenis ditambah topi.
Mereka melangkah beriringan memasuki halaman rumah BU BAMBANG.
23. EXT : HALAMAN DEPAN : SIANG
Sebuah mobil sudah siap dipakai, JUKI, sang sopir stand-by dekat mobil.
Dari dalam rumah muncul PAK BAMBANG menenteng joran dan tempat umpan. Nah justru kostum PAK BAMBANG ini begitu bersahaja. Hanya kaos oblong dan celana panjang biasa yang dilipat ujungnya. Ditambah sandel jepit.
Sejenak ROS dan AYUB terpana melihat penampilan PAK BAMBANG yang tak terduga ini.
ROS Selamat siang, Pak.
AYUB Assalamu'alaikum, Pak.
PAK BAMBANG Wa'alaikumsalam dan selamat siang. Waah, bareng rupanya.
ROS Ibu, Pak?
PAK BAMBANG Masih dandan. Masuk saja, dik Ros.
ROS pun melintas halaman samping.
AYUB Sudah siap, Pak?
PAK BAMBANG Ooo, siap dong. (KEPADA SOPIR) Ayo, Juki. Kita berangkat.
JUKI tampak bingung.
JUKI Lho, Ibu, Pak?
PAK BAMBANG buru-buru membuka pintu mobil dan mendorong JUKI masuk ke mobil.
PAK BAMBANG Ayolah, cepat!
Terpaksalah JUKI masuk ke mobil. Menyusul PAK BAMBANG dan AYUB . Agak repot juga memasukkan joran pancing.
INT : MOBIL
Dengan ogah-ogahan JUKI menghidupkan mesin mobil.
JUKI Nanti saya dimarahi Ibu, Pak.
Bayangkan, JUKI lebih takut pada Ibu dari pada Bapak. Padahal Bapak ini bekas pejabat tinggi, lho.
PAK BAMBANG Sudah, jalan! Nanti dia pakai taksi.
Maka mobilpun berjalan keluar dari halaman dan melesat pergi.
CUT TO
Kemudian BU BAMBANG yang berpakaian sport keluar diikuti ROS dari dalam rumah. BU BAMBANG heran tak menemukan mobil.
BU BAMBANG Lho, mana mobilnya? Mana Juki?
ROS Mungkin dipakai Bapak, Bu.
BU BAMBANG Hah, main serobot. Tidak tahu etika! (KEPADA ROS) Ayo, kita nunggu taksi.
Maka berjalanlah mereka berdua ke jalan.
24. EXT : KOLAM PEMANCINGAN : SIANG
Tampak AYUB dan PAK BAMBANG sedang mancing. Di latar belakang tampak JUKI berdiri dekat mobil yang diparkir. O ya, kolam ini terletak di pinggir kota.
PAK BAMBANG Apa sih bisanya isteri saya itu? Tapi saya biarkan dia dengan kegiatannya itu. Setelah rumah sepi karena anak-anak berpencaran disana-sini, ia butuh kesibukkan untuk membuang rasa sepi. Saya tak menduga kalau usahanya bisa maju seperti ini. Tapi kemudian saya tahu, ini semua karena dik Ros. Isteri dik Ayub itu gesit dan pintar.
AYUB Begitulah, Pak.
PAK BAMBANG Isteri yang membanggakan dik Ayub.
AYUB Ya, Pak.
PAK BAMBANG Dik Ayub sungguh beruntung.
AYUB mengangguk.
AYUB Kadang saya pikir, jangan-jangan perkawinan ini musibah bagi isteri saya.
PAK BAMBANG Ah, dik Ayub juga suami yang membanggakan bagi isteri.
AYUB tersenyum.
AYUB Dalam hal apa, Pak?
PAK BAMBANG Tak banyak suami yang penuh pengertian pada karir isterinya.
AYUB memikirkan kata-kata PAK BAMBANG. Lalu katanya....
AYUB Pikiran saya sederhana saja. Saya menghargai orang tua yang telah menyekolahkannya, juga para guru yang mendidiknya. Dan juga menghargai bakat dan kemampuan yang Tuhan berikan kepadanya. Dan terutama, karena isteri saya bekerja, saya tak perlu memberikan uang saku.
Lantas PAK BAMBANG tertawa terbahak-bahak.
Terlihat JUKI, sang sopir, mendekati PAK BAMBANG.
JUKI Pak, bagaimana kalau Ibu marah pada saya?
PAK BAMBANG Kamu ini kok takut amat sih sama Ibu?
JUKI Soalnya Ibu yang duluan mintar diantar. Bukan Bapak.
PAK BAMBANG berpikir sebentar.
PAK BAMBANG Ya, sudah. Sana susul Ibu!
Maka JUKI lalu pergi.
25. EXT : JALAN : SIANG
Sebuah mobil (yang disopiri JUKI) berhenti di depan sebuah rumah. Ini rumah orang tua ROS. Rumah tua berukuran kecil namun terawat baik.
ROS yang berpakaian sport turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. ROS juga menenteng oleh-oleh (duku) buat orang tuanya.
26. INT : RUANG TENGAH : SIANG
ROS tak melihat siapapun di ruangan ini.
ROS Assalamualaikum!
BU ALAM (OS) Waalaikumsalam.
Terdengar jawaban dari dalam kamar. ROS meletakkan oleh-oleh (duku) di meja makan, lalu ke kamar orang tuanya.
27. INT : KAMAR TIDUR : SIANG
PAK ALAM telungkup di pembaringan bersarung dengan punggung terbuka. Baru saja dipijit oleh BU ALAM yang kini telah bangkit.
Maaf, ada adegan isteri melayani suami. Ini memang tipe keluarga masa lalu.
ROS masuk. PAK ALAM menoleh.
PAK ALAM Badan Bapak pegal-pegal, Ros.
BU ALAM keluar kamar mengambilkan minuman buat suaminya.
ROS Ada duku di meja, Bu.
PAK ALAM Hasil kebun yang mana, ya? PAK ALAM lalu bangkit, beranjak keluar diikuti ROS.
28. INT : RUANG TENGAH : SIANG
BU ALAM Yang di Cililitan, Pak. Nggak perlu manjat memetik. Tinggal kasi duit pada yang jual.
PAK ALAM menghampiri meja lalu duduk dan mulai makan duku. BU ALAM mengikuti. ROS juga menarik korsi dan duduk.
PAK ALAM Dari mana saja?
ROS Baru menemani Bu Bambang fitnes.
PAK ALAM senyum.
PAK ALAM Senang melihat kamu. Kamu betul-betul perempuan yang penuh percaya diri. Betul-betul perempuan masa kini.
ROS tersenyum dikatakan perempuan masa kini.
PAK ALAM Kamu sudah jauh melebihi Ibumu. Ibumu hanya seorang perempuan, seorang isteri dan seorang ibu. Seorang yang betul-betul menyerahkan nasibnya pada kebaikan hati suaminya.
BU ALAM mesem-mesem.
ROS Untung Bapak suami yang baik.
PAK ALAM tertawa sampai terbatuk-batuk.
ROS Betul, kok. Tanya saja Ibu. Ya Bu, ya?
BU ALAM hanya senyum-senyum.
PAK ALAM Bahkan kamu lebih dari Bapak....Bapak ini hanya seorang pegawai. Betul-betul seorang pegawai. Hidup dengan penghasilan seorang pegawai, juga dengan pikiran seorang pegawai.
ROS tersenyum sumringah.
PAK ALAM Sedangkan kamu, Bapak lihat, bukan hanya anak dari seorang tua pegawai rendahan atau seorang isteri dari lelaki yang sehari-hari di rumah sibuk dengan ayam-ayamnya, tapi juga seorang perempuan yang mempunyai sikap dan pikiran yang maju.
ROS tersipu-sipu.
ROS Pak, bagaimana kalau cukup memujinya?
PAK ALAM Bapak sedang berbangga.
ROS dan BU ALAM tersenyum. ROS terdiam sejenak, lalu katanya....
ROS Saya hanya memanfaatkan potensi yang saya miliki. Kesadaran ini saya peroleh karena Bapak juga. Bapak yang menyekolahkan saya.
PAK ALAM tersenyum.
BU ALAM Lalu Apa yang telah dilakukan Ibumu, Ros?
ROS segera menyadari tidak menyinggung-nyinggung peran Ibunya. Tapi ia senang menggoda Ibunya.
ROS O ya, Ibu juga. Ibu yang melahirkan saya....
BU ALAM Hanya itu?
PAK ALAM He, tentu banyak lagi yang lainnya. Saking banyaknya si Ros tak mungkin menyebutkan-nya satu persatu. Makanya dia sebut yang paling penting itu. Kau yang melahirkannya, kan?
BU ALAM Saya juga selalu mendorongnya untuk mencapai kemajuan dengan cerita-cerita perjuangan ibu Kartini. Sedangkan Ba-pak, sedikit-dikit, hati-hati Ros, hati-hati.....
PAK ALAM tersenyum.
PAK ALAM Bapak minta si Ros berhati-hati dalam melangkah karena dia sudah melangkah memasuki lingkungan yang berbeda de-ngan lingkungan dari mana dia berasal. Dia bergaul dengan orang-orang pintar, orang-orang kaya, orang-orang yang hi-dupnya dan pikirannya tidak sederhana.
ROS Mereka juga manusia biasa seperti kita, Pak. Nggak semuanya pintar, ada juga yang bodoh. Jadi, nggak ada cara-cara khusus untuk bergaul dengan mereka. Biasa saja, kok.
PAK ALAM O ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan suamimu? Kenapa dia tidak ikut?
ROS Dia pergi sama Pak Bambang.
PAK dan BU ALAM heran juga.
PAK ALAM Ros, jangan terlalu paksa dia mengikuti apa yang menurutmu pantas. Kasihan dia.
BU ALAM Nggak ada salahnya Pak. Si Ayub kan sekali-sekali perlu melihat dan menge-tahui apa yang dilakukan isterinya. Nggak ngublek seharian dengan ayam-ayamnya saja.
PAK ALAM Menantu kita itu...Kelihatannya dia berasal dari dunia yang biasa-biasa saja seperti kita ini.
BU ALAM Si Ros sendiri bisa belajar, kenapa dia tidak?
PAK ALAM Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri seperti itu.
ROS tersenyum melihat Bapak dan Ibunya berdebat mengenai suaminya.
ROS Bapak dan Ibu nggak usah cemaskan Bang Ayub. Dia sendiri biasa-biasa kok.
BU ALAM Bapakmu ini bangga punya menantu yang kelakuannya kurang lebih sama seperti dia.
PAK ALAM tersenyum. ROS juga.
PAK ALAM Bapak hanya kasihan kepadanya.
BU ALAM Kan baik si Ros membawanya bergaul. Biar punya wawasan. Si Ros kan juga ingin punya suami yang membanggakan.
ROS segera menyela. ROS Sudah ah berdebatnya. Soal Bang Ayub, dia suami saya, jadi, serahkan pada saya, ya Pak, ya Bu?
Maka akhirnya PAK ALAM dan BU ALAM terdiam. Memang soal suami anaknya adalah urusan anaknya.
FADE OUT
29. INT : RUANG TENGAH : MALAM
ROS sedang makan malam. Tentu saja dengan gaya dan cara yang 'semestinya'. Di hadapannya duduk AYUB mengamati.
AYUB Enak, ya? ROS tak menjawab. Kelahapannya makanlah sebagai jawaban.
AYUB Itu hasil mancing dengan Pak Bambang.
ROS terus makan. AYUB Pak Bambang itu, pembawaannya bersa-haja sekali, ya? Aku tidak nyangka.
ROS terus makan. AYUB bicara seraya memperhatikan isterinya makan.
AYUB Cara makannya, cara berpakaiannya. Ingat kan tadi? Waktu berangkat mancing, dia hanya berkaos oblong dengan celana dilipet. Apakah kita akan bilang Pak Bambang yang pensiunan pejabat tinggi itu kampungan? Kan nggak mungkin. Malah dia cerita pernah mancing di Swiss segala.
ROS menelan kunyahannya. Ia mengerti arah pembicaraan suaminya.
ROS Yah, kostum mancing Abang yang tadi itu memang kurang tepat. Maklumlah, kita dalam tahap belajar. Kadang-kadang keliru.
AYUB Tidak itu saja. Waktu cocktail-party itu juga. Kau suruh aku pakai stelan jas.
ROS tersenyum.
ROS Sory, tak akan terulang.
AYUB Terus kau pikir akan ada acara ma-kannya.
ROS Iya, pelajaran di kursus belum sampai pada pelajaran coctail-party.
AYUB Seandainya kita biasa-biasa saja, membawakan diri dengan cara yang enak yang sesuai dengan diri kita tentu kita tak akan repot.
ROS Memang, apalagi kalau di hutan. Tidak ada yang akan peduli apakah kita telanjang bulat atau tidak.
AYUB senyum kecut.
AYUB Maksudku, kenapa kita tidak jujur mengenai diri kita?
ROS Bukan masalah jujur atau tidak jujur. Ini masalah bergaul dengan orang lain. Dengan membawakan diri sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada kita menunjukkan bahwa kita bagian dari situasi itu. Itu namanya bermasya-rakat.
AYUB makin kecut wajahnya.
ROS Cobalah, Abang jangan bergaul dengan ayam saja.
Makin kecut lagi wajah AYUB. Malah ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
ROS Saya punya ide. Kita piara anjing saja. Rumah kita jadi aman.
AYUB Iya, tapi anjing kan tidak bisa bertelur.
Kini ROS yang kecut. Ia meneruskan makannya.
FADE OUT
30. EXT : JALAN DEPAN RUMAH : SORE
Sebuah taksi berhenti di depan rumah AYUB. PAK BAMBANG turun dari taksi.
PAK BAMBANG celingak-celinguk. Melihat ada papan nama (SEDIA TELUR AYAM KAMPUNG) maka yakinlah ia ini rumah AYUB. PAK BAMBANG melangkah masuk.
31. EXT : HALAMAN BELAKANG : SORE
PAK BAMBANG sampai di halaman belakang. AYUB yang sedang mengumpulkan telur menoleh.
AYUB Oh, Pak Bambang?
PAK BAMBANG Saya menagih janji dik Ayub. Katanya mau ngasi saya telur.
AYUB Beres, Pak. Tapi, mari duduk di dalam.
PAK BAMBANG Di sini saja. Saya mau melihat ayam-ayam dik Ayub.
AYUB tersenyum.
PAK BAMBANG Hasilnya lumayan ya, dik Ayub?
AYUB Lumayanlah, Pak. Dalam arti pekerjaan ini dinikmati. Tapi sebenarnya isteri saya kurang suka. Lebih baik piara anjing katanya. PAK BAMBANG O ya?
AYUB Baik, saya bilang, asal anjing itu bisa bertelur.
PAK BAMBANG tertawa ngakak. Ayampun tiba-tiba riuh tertawa, eh, berkotek.
AYUB lalu mengulurkan telur yang dikumpulkannya pada PAK BAMBANG.
AYUB Ini, Pak.
PAK BAMBANG Terima kasih.
32. EXT : JALAN : SORE
Mobil BU BAMBANG datang. BU BAMBANG dan ROS turun dari mobil dan masuk ke rumah. BU BAMBANG memperhatikan papan nama, membuat ROS agak malu. BU BAMBANG dan ROS terus masuk ke ruang tamu.
33. EXT : RUMAH KELUARGA AYUB : SORE
BU BAMBANG dan ROS berjalan menuju rumah. Terdengar riuh ayam.
BU BAMBANG Tadi saya lupa, sebenarnya Bapak minta dijemput, katanya mau ikut kemari. Katanya suami dik Ros janji mau kasih telur. Memangnya dik Ros piara ayam?
Langsung wajah ROS jadi kecut. Ada rasa malu.
ROS Suami saya. Sebenarnya saya larang, tapi tahu-tahu saya dapati halaman belakang sudah penuh dengan ayam.
BU BAMBANG dan ROS masuk ke ruang tamu.
34. EXT : HALAMAN BELAKANG : SORE
Kembali ke kandang ayam. AYUB mengeluarkan seekor ayam
jantan yang gagah dari kurungannya menunjukkannya pada PAK BAMBANG.
AYUB Nah, ini dia, Pak. Saya pikir, dialah ayam jago yang paling bahagia di dunia. Bayangkan, dia hidup bagaikan raja-raja abad sembilan belas yang dikelilingi puluhan orang selir. Ayam jago saya ini, dikelilingi oleh lebih dari lima puluh ekor betina.
Mau tak mau PAK BAMBANG terkejut.
PAK BAMBANG Ha? Tidakkah itu justru penyiksaan? Siapapun tidak akan kuat melayani lima puluh........
Sementara itu tampak BU BAMBANG dan ROS mendekat.
AYUB Kita kan berbicara tentang ayam, Pak.
BU BAMBANG dan ROS sudah sampai. Tak tahu topik pembicaraan.
BU BAMBANG Kuat apa, dik Ayub?
AYUB menoleh.
AYUB Oh, Ibu? Ini, Bapak tidak percaya kalau seekor jago bisa membuahi lima puluh ekor babon.
BU BAMBANG pun terkejut. Menoleh pada ROS. ROS senyum kecut.
BU BAMBANG Ah, masa, dik? AYUB Lho, iya. Ini buktinya, Bu. Ayam jago saya ini. Kalau tidak, mana mungkin babonbabon saya bertelur semuanya?
AYUB lalu memasukan jagonya kembali ke kurungan, dan mengeluarkan seekor jago lainnya, yang tampak sudah tua dan lemah.
AYUB Nah, kalau yang ini, sudah nggak mampu lagi. Dia sudah pensiun.
AYUB lalu mengulurkannya pada PAK BAMBANG yang menerimanya
AYUB Untuk Bapak.
PAK BAMBANG kerepotan menerima ayam karena ia sudah memegang keranjang telur.
BU BAMBANG Untuk apa jago yang sudah pensiun?
PAK BAMBANG mengulurkan ayam jago pada isterinya, BU BAMBANG yang sedang tertarik pada pembicaraan menerima begitu saja.
PAK BAMBANG Kok untuk apa. Untuk disembelih!
BU BAMBANG Ooo...
CUT TO
Mereka semua lalu beranjak ke halaman depan. BU BAMBANG dan ROS berjalan bersisian, agak jauh dari kelompok PAK BAMBANG dan AYUB.
BU BAMBANG (MASIH MEMEGANG AYAM JAGO) Rupanya suami dik Ros ahli betul soal ayam.
ROS tersenyum kecut. Malu. BU BAMBANG lalu meraih lengan ROS, berbisik.
BU BAMBANG (BERBISIK) Tapi, apakah betul seekor jago bisa mengawini lima puluh ekor babon?
Tentu saja ROS tak bisa menjawab. BU BAMBANG lalu memperhatikan ayam jago tua yang dipegangnya, seolah-olah bertanya, betulkah jago ini bisa mengawini lima puluh ekor babon? BU BAMBANG tersadar…..
BU BAMBANG Lho, saya kok pegang ayam? Pak, ini!
35. INT : RUANG TENGAH : MALAM
ROS lagi duduk santai membaca koran. AYUB muncul dari dapur membawa kopi panas untuk dirinya dan teh buat isterinya. ROS melipat korannya.
ROS Saya ingin Abang berhenti piara ayam.
AYUB hanya menoleh sekilas.
ROS Saya malu, Bang. Apa-apaan Abang bicara soal jago yang bisa mengawini lima puluh ekor babon? Nggak mutu!
AYUB Tentu saja kau mengatakan nggak mutu, karena kau tidak mengerti soal ayam. Apa yang aku katakan itu ilmiah.
ROS Alaaah, soal ayam kok ilmiah.
AYUB Eeee, meremehkan. Dengar ya, penge-tahuan soal ayam sudah merupakan bidang ilmu tersendiri. Ada teorinya, ada buku-nya.......bahkan soal tai ayam pun, sudah ribuan profesor yang menye-lidikinya.
ROS terkejut. ROS Ih, jijik.
AYUB mencibir.
AYUB Jijik. Jangan-jangan kau tidak tahu kalau telur ayam dan tai ayam keluar lewat lubang yang sama.
ROS semakin terkejut. Membelalak.
ROS Betul itu?
AYUB Eee, nggak percaya. Makanya sering main ke kandang ayam. Lihat ayam bertelur.
ROS Nggak, ah. Pokoknya Abang berhenti piara ayam. Kita piara anjing saja. Kalau piara anjing rumah kita aman.
AYUB Kalau anjing sudah bisa bertelur, aku baru mau piara anjing.
ROS senyum kecut.
FADE OUT
36. EXT : SEBUAH BANGUNAN MUNGIL : SORE
Ini sebuah bangunan yang menjadi kantor perusahaan yang dimiliki BU BAMBANG dan dijalankan oleh ROS.
Tampilkan sejenak sosok bangunan ini sebelum meninjau adegan di dalam (Establish-Shot).
37. INT : RUANGAN : SORE
Ini sebuah ruangan yang akan berfungsi sebagai showroom barang-barang kerajinan yang dibisniskan oleh ROS dan BU BAMBANG. Sebagian barang kerajinan sudah terpajang, sebagian lagi masih tergeletak begitu saja.
Sebuah gentong gerabah besar berornamen yang sedang diangkat untuk diletakkan pada tempatnya oleh dua pekerja laki-laki. ROS mengawasi.
ROS Hati-hati, Pak.
Gentong gerabah sudah diletakkan pada tempatnya. Tapi ada yang kurang......
ROS Agak diputar, Pak. Biar ornamennya terlihat.
Dua pekerja menggeser dan memutar gentong gerabah.
ROS Yak, cukup.
Sekarang ROS melihat dengan puas penataan keseluruhan showroom.
ROS Sekarang yang itu, Pak.
ROS menunjuk gentong gerabah lainnya. Dua pekerja segera melakukan tugasnya.
Seorang sekretaris berpakaian rapi, sebut saja NUNIK, memasuki showroom.
NUNIK Ruang kerja Ibu sudah siap. Silahkan dilihat, Bu.
ROS O ya.
ROS lalu mengikuti NUNIK keluar.
38. INT : RUANG KERJA : SORE
Ruang kerja ini mungil namun rapi. Ada dua desk kerja. Frontal menghadap pintu adalah meja kerja ROS dimana di atasnya ada pesawat telpon, sedangkan di sisi ruangan adalah meja BU BAMBANG. Di sisi lainnya menghadap meja kerja BU BAMBANG ada filling-cabinet. Pada dinding ada hiasan (lukisan) dekoratif.
ROS mengikuti NUNIK memasuki ruang kerja. ROS tersenyum senang melihat ruang kerjanya.
NUNIK Ada yang kurang, Bu?
ROS Trima kasih, Nunik. Cukup. Sekarang kamu ke showroom, lihat-lihat apa yang kurang. Setelah itu kau boleh tempati mejamu di ruang depan, ya? Siapa tahu ada tamu yang datang.
NUNIK Jadi, sudah mulai, Bu?
ROS Oh, belum. Latihan saja. Sekalian menung-gu kedatangan Bu Bambang.
NUNIK tersenyum, lalu keluar.
CUT TO
ROS masih dengan senyumnya yang mengembang. Kemudian ROS beranjak duduk di balik meja kerjanya, dengan hati-hati namun mantap, menghayati rasanya duduk sebagai direktur sebuah perusahaan, masih dengan senyumnya yang mengembang.
Kemudian terngiang kata-kata Ayahnya...( scene no.28 ) (OS) PAK ALAM Kamu sudah jauh melebihi Ibumu. Ibumu hanya seorang perempuan, seorang isteri, dan seorang ibu. Seorang yang betul-betul menyerahkan nasibnya pada kebaikan hati suaminya. Bahkan kamu lebih dari Bapak. Bapak ini hanya seorang pegawai. Betul-betul seorang pegawai. Hidup dengan penghasilan seorang pegawai, juga dengan pikiran seorang pegawai.....
Saking terharunya mengingat kata-kata Ayahnya itu, ROS tak merasakan matanya membasah. Ia terharu. Apalagi mengingat kata-kata Ayahnya selanjutnya.
(OS) PAK ALAM …………..bukan hanya anak dari orang tua pegawai rendahan atau seorang isteri dari lelaki yang sehari-hari di rumah sibuk dengan ayam-ayamnya, tapi juga seorang perempuan yang mempunyai sikap dan pikiran yang maju. Tidak, Bapak tidak sedang memujimu, Ros. Bapak sedang berbangga.
Sembari menghapus air matanya yang menitik, merebak senyum bahagia di wajah ROS.
Tiba-tiba BU BAMBANG masuk diikuti seorang laki-laki yang menggotong televisi yang masih dalam kotaknya. Sebuah televisi baru. ROS segera bangkit.
BU BAMBANG Ibu baru beli tivi, Ros. (KEPADA LELAKI) Dibuka, Pak.
Teve 14 inch mulai dikeluarkan dari kotaknya. BU BAMBANG mengamati ruang kerja.
BU BAMBANG Bagaimana ruang kerjanya, dik Ros?
ROS tersenyum.
ROS Bagus, Bu.
BU BAMBANG Mungkin ada yang perlu ditambahkan?
ROS Sementara ini cukup.
Teve sudah keluar dari kotaknya. BU BAMBANG menunjuk filling cabinet.
BU BAMBANG Di sini, Pak.
Si lelaki meletakkan teve di atas filling cabinet. Sementara itu ROS masih heran, untuk apa teve? Tanpa ditanya BU BAMBANG memberi penjelasan.
BU BAMBANG Biar Ibu tidak ketinggalan mengikuti sinetron kesenangan Ibu.
BU BAMBANG ini mau kerja atau mau nonton teve, pikir ROS. Tapi apa boleh buat. ROS cuma bisa senyum kecut.
BU BAMBANG Bagaimana showroomnya?
ROS Mari kita lihat, Bu.
BU BAMBANG (KEPADA LELAKI) Sekalian dipasang dan dicoba ya, Pak?
LELAKI: Baik, Bu.
ROS dan BU BAMBANG keluar menuju showroom.
39. INT : RUANG KERJA : SORE
Para pegawai siap-siap hendak pulang. Mengemasi tas kerja. AYUB tampak buru-buru.
JOKO Buru-buru, Bang Ayub?
AYUB Ada perlu.
JOKO meledek.
JOKO Ayam-ayam belum makan, ya?
AYUB Yang belum makan saya, Mas.
AYUB lalu tersenyum.
AYUB Nggak. Saya mau mampir ke tempat isteri.
JOKO Wah, penuh perhatian sekarang.
AYUB Sekali-sekali menyemangati isteri kan nggak ada salahnya.
JOKO Suporter, kali.
AYUB Dibilang begitu juga boleh.
JOKO Memangnya ada apa sampai perlu di-semangati segala?
AYUB Isteri saya dipercaya memimpin sebuah usaha eksportir barang-barang kera-jinan. Ya, usaha kecil-kecilanlah.
JOKO kagum juga. AYUB melanjutkan.
AYUB Sudah lama dia mendambakan memimpin sebuah usaha, walaupun kecil. Ia merasa tertantang untuk membuktikan kemam-puannya. Sekarang dia dapatkan itu. Nah, apa salahnya dia didukung?
JOKO kembali tersenyum. Kagum juga pada sikap temannya ini yang begitu enteng cara berpikirnya. Tidak dibebani rasa minder atas kemampuan lebih isteri.
JOKO Oke, jadi suporter yang baik, Bang Ayub.
AYUB tak menghiraukan sindiran itu, terus beranjak keluar, namun ia membalik di pintu.
AYUB Kapan-kapan kita mancing.
40. EXT : KANTOR : SORE
AYUB turun dari sebuah bajaj. Masih dengan seragam pegawainya dan menteng tas kerja.
AYUB memperhatikan bangunan di depannya sejenak, kantor tempat ROS bekerja. AYUB lalu melangkah memasuki halaman kantor.
41. INT : KANTOR : SORE
AYUB melangkah mendekati gadis penerima tamu, NUNIK.
AYUB Selamat sore.
NUNIK sang resepsionis mengangguk ramah. NUNIK Selamat sore. Bisa kami bantu, Pak?
AYUB Bu Ayub ada?
NUNIK Bu Ayub? Bu Ayub siapa, Pak?
AYUB Ng,..yang jadi direktur di sini....
NUNIK Mm, Bapak siapa?
AYUB Ya saya Pak Ayub.
NUNIK Ng, sebentar ……
Lalu melintas seorang karyawan….
NUNIK Eh, Pak Andre. Ada karyawan di sini yang bernama Bu Ayub?
PAK ANDRE menggeleng. AYUB segera tahu masalahnya.
AYUB O ya, Bu Ros, Bu Ros. Itu nama isteri saya.
NUNIK Kalau Bu Ros ada.
AYUB Nah itu dia. Dia isteri saya.
NUNIK memandangi AYUB lalu tersenyum. Tak menduga kalau orang yang di hadapannya adalah suami atasannya.
NUNIK Kalau begitu, sebentar Pak.
NUNIK menelpon ke dalam.
NUNIK Bu, ada Pak....(KEPADA AYUB) Pak siapa, Pak?
AYUB Ayub.
NUNIK Pak Ayub, Bu.
42. INT : RUANG KERJA ROS : SORE
ROS yang sedang menerima pesan dari depan tampak terkejut mengetahui suaminya datang.
ROS Itu suami saya. Persilahkan masuk.
ROS lalu membenahi diri. Photo Ayub yang ada di meja kerjanya dibenarkan letaknya.
Kemudian masuklah AYUB. ROS bangkit menyongsong suaminya.
ROS He, Bang.
AYUB tersenyum. AYUB menatapi sekeliling ruangan....
ROS Inilah tempat saya.
AYUB Hebat.
ROS tersenyum.
AYUB Ini tempat yang hebat. Dingin, ber- AC, berkarpet. Wow, ada tivi.
ROS Ruang kerja harus membuat betah dan kerasan.
AYUB terkejut melihat ada photonya di meja ROS. Seraya beranjak duduk, ia perhatikan photonya sendiri.
AYUB He, photo bintang film dari mana ini?
ROS tersenyum penuh arti. Ia lalu duduk. AYUB merasa terharu dan bangga. Ia merasa isterinya sesungguhnya menghargainya.
ROS Photo ini akan selalu mengingatkan saya bahwa duduknya saya di korsi ini tak lepas dari kesempatan dan dukungan yang diberikan oleh orang ini.
AYUB jadi tak bisa bicara. Terharu mendengar pengakuan isterinya.
43. EXT : KOLAM PEMANCINGAN : SIANG
AYUB dan PAK sudah duduk berjejer memancing. Seraya mereka ngobrol.
PAK BAMBANG Biarlah ibu-ibu melakukan apa yang mereka senangi, dik Ayub.
AYUB Ya, Pak.
PAK BAMBANG Mereka harus didukung. Tapi ada syaratnya. Keluarga di atas segala-galanya. Benar, nggak?
AYUB Benar, Pak.
PAK BAMBANG Hanya barangkali ada sedikit perubahan. Kalau ibu-ibu jaman dulu cukup bahagia dan merasa berarti dengan perannya mendidik dan membesarkan anak-anak, membuat mereka menjadi manusia berguna, maka Ibu-ibu sekarang agak lain. Mereka juga butuh dihargai di luar rumah, di luar ling-kungan keluarganya.
AYUB mantuk-mantuk. PAK BAMBANG menoleh.
PAK BAMBANG Dik Ayub kok mantuk-mantuk saja?
AYUB Iya, Pak. Habis Bapak benar, sih.
PAK BAMBANG tertawa.
FADE OUT
44. EXT : KANTOR : SORE
Jam bubar kantor. Tampak JOKO dan AYUB berjalan bersisian menuju ke jalan raya.
JOKO Jangan-jangan setelah isteri jadi direktur, Bang Ayub ganti hobi, main golf.
AYUB Yang asyik itu tetap mancing.
JOKO Tapi Bang Ayub tetap menolak bila saya ajak.
AYUB tersenyum.
AYUB Kebetulan saya sudah mancing dengan Pak Bambang.
JOKO Pak Bambang? Siapa itu?
AYUB Suami Bu Bambang.
JOKO Iya, Bu Bambang itu siapa? Awas Bang Ayub jangan bilang isterinya Pak Bambang.
AYUB Teman isteri saya.
JOKO mengangguk-angguk seraya senyum agak sinis.
JOKO Ooo, yang di belakang bisnis isteri Bang Ayub itu?
AYUB Ya.
AYUB melihat wajah sinis JOKO.
AYUB Kenapa?
JOKO Di mana mancingnya?
AYUB Di kolam pemancingan.
JOKO Itulah.
AYUB Kenapa?
JOKO Apa asyiknya mancing di kolam pemancingan? Jelas di situ ada ikannya, kok.
AYUB Malah bukannya asyik? Pasti dapatnya, kan?
JOKO tertawa.
JOKO Seorang pemancing sejati bukan mengejar ikannya, sebab ikan banyak di pasar. Tapi tantangannya, Bang AYub. Kita mengandalkan instink dan kepekaan kita sebagai pemancing sejati. Makanya kita mancing di tempat yang belum ketahuan ada ikannya apa nggak. Seperti di kali atau di laut. Kalau di kolam apa enaknya? Jelas di situ ditebar ikan.
AYUB diam, diam-diam membenarkan.
AYUB Rasanya tak mungkin mengajak Pak Bambang ke tempat seperti itu.
JOKO Iya, mancing Bang Ayub kan sekedar menuruti snobnya Pak Bambang itu.
AYUB tersengat mendengar kata-kata JOKO.
JOKO Jangan-jangan ini bagian dari stra- tegi bisnis isteri Bang Ayub.
AYUB Maksud Mas Joko?
JOKO Bu Bambang sibuk berbisnis dengan isteri Bang Ayub sehingga melalaikan suaminya. Pak Bambang jadi kesepian di rumah. Maka Bu Bambang minta pada isteri Bang Ayub agar Bang Ayub menemani Pak Bambang.
AYUB terkejut mendengar analisa JOKO itu. Benarkah?
AYUB Ah, itu terlalu jauh, Mas.
JOKO Iya, memang. Baru dugaan.
Tapi AYUB betul-betul terganggu dengan analisa JOKO itu.
45. EXT : JALAN DEPAN RUMAH : SORE
Mobil yang disopiri JUKI berhenti di depan rumah. ROS turun dari mobil bersama PAK BAMBANG. PAK BAMBANG menenteng joran, hendak mengajak AYUB mancing. Mereka memasuki rumah.
46. EXT : HALAMAN BELAKANG : SORE
AYUB sedang memberi ayamnya makan. Dari pintu belakang rumah keluar ROS yang baru datang. Ia mendekati suaminya.
ROS Bang, saya datang dengan Pak Bambang.
AYUB Pak Bambang? Ada apa?
ROS Dia mau ngajak Abang mancing lagi.
Langsung saja AYUB teringat kata-kata JOKO. Maka AYUB menunjukkan wajah kurang senang.
AYUB Bilang aku sibuk.
ROS sungguh heran dengan tanggapan suaminya ini.
ROS Bang! Pak Bambang.
AYUB Biar. Aku sibuk.
ROS mencoba menekankan lagi.
ROS Pak Bambang, Bang. AYUB Ayam-ayam ini lebih penting dari Pak Bambang.
ROS Pak Bambang sabar menunggu sampai Abang selesai memberi ayam-ayam itu makan.
Kemudian ROS bergegas masuk kembali ke dalam rumah. AYUB meletakkan ember makanan ayamnya dan segera mengikuti isterinya ke dalam rumah.
47. INT : KAMAR : SORE
ROS sedang merapikan dandanannya di depan cermin ketika AYUB menyusul masuk.
AYUB Kau sendiri mau ke mana?
ROS Diajak Bu Bambang melihat pameran keramik Cina di jalan Sudirman.
AYUB Kau menemani Bu Bambang melihat pameran keramik, lalu aku menemani Pak Bambang mancing. Pembagian kerja yang bagus.
ROS menoleh. Heran dengan kata-kata suaminya.
ROS Bang! Kok begitu?
AYUB Kau boleh dengan segala ambisimu itu, tapi sudah keterlaluan kalau kau juga memperalat suamimu ini.
ROS Lho, Bang? Sebelumnya kan Abang pernah mancing dengan Pak Bambang?
AYUB Ya, tapi itu murni keinginan kami berdua. Tidak seperti yang sekarang ini. Pak Bambang.....
ROS mengisyaratkan dengan menaruh telunjuk di depan bibirnya, bahwa PAK BAMBANG ada di ruang tamu sehingga bisa saja suara mereka didengar......
48. INT : RUANG TAMU : SORE
Sejenak kita lihat PAK BAMBANG yang menunggu. Ia lalu bangkit dan keluar.
49. INT : KAMAR : SORE
Kembali ke suami isteri AYUB dan ROS. AYUB kini mengecilkan suaranya.
AYUB Iya, kan? Pak Bambang kesepian karena isterinya keluar, lalu kau menawarkan agar ia pergi memancing bersamaku,....
ROS Bang, itu tidak benar....
AYUB Atau Bu Bambang yang memintamu agar menyuruhku menemani suaminya mancing?
ROS Saya bilang semuanya tidak benar.
AYUB Itulah kenyataannya. Suamimu ini hanya alat bagi kepentingan karirmu.
ROS sungguh tidak senang dengan dugaan suaminya, tapi ia juga harus segera pergi.
ROS Bang! Ini tuduhan serius, tapi saya tidak punya waktu untuk melayani Abang berdebat. Saya harus pergi. Nanti kita lanjutkan.
AYUB Baik, nanti kita lanjutkan. Ayam-ayamku juga belum makan.
Lalu AYUB beranjak keluar.
50. EXT : HALAMAN BELAKANG : SORE
AYUB terkejut mendapati PAK BAMBANG ada di kandang ayam. Ia lantas jadi kikuk.
AYUB Lho, Pak Bambang?
PAK BAMBANG tersenyum.
PAK BAMBANG Ayam-ayam dik Ayub sehat-sehat.
AYUB Begitulah, Pak. Asal telaten memeli-haranya.
PAK BAMBANG Tadinya saya bermaksud mengajak dik Ayub mancing. Tapi kelihatannya dik Ayub sibuk.....
AYUB betul-betul rikuh.
AYUB Iya, ini ayam-ayam....
PAK BAMBANG Ya, dik Ayub. Ayam-ayam harus diurus dengan baik......
AYUB Mm, tapi kalau Pak Bambang ingin benar mancing, yaa nggak apa....
PAK BAMBANG O, nggak. Kita mancing lain kali saja.
Kemudian ROS muncul.
ROS Saya kira masih di depan, Pak.
PAK BAMBANG; Ini, saya lihat ayam-ayam dik Ayub.
ROS Iya, Pak. Suami saya ini kalau ada apa-apa dengan ayam-ayamnya merasa kurang sreg meninggalkan rumah. (KEPADA AYUB) Ada yang sakit, Bang?
AYUB hanya bisa senyum kecut mendengar pertanyaan istrinya.
PAK BAMBANG Dik Ros mau berangkat sekarang?
ROS Iya, kan ditunggu Ibu.
PAK BAMBANG Kalau begitu saya ikut pulang. (KEPADA AYUB) Lain kali kita mancing, mau kan dik Ayub?
AYUB O ya, saya selalu siap, Pak.
ROS dan PAK BAMBANG beranjak ke depan (ke jalan). AYUB mengikuti, mengantar.
51. EXT : JALAN : SORE
ROS dan PAK BAMBANG naik ke mobil dan kemudian mobil yang disopiri JUKI berlalu.
CUT TO
Dari arah sebaliknya tampak datang JOKO berjalan kaki. Senyum-senyum menenteng joran untuk mancing. AYUB hanya bisa senyum kecut. Kali ini ia tak dapat menolak ajakan JOKO.
52. EXT : KALI : SORE
AYUB dan JOKO berjalan perlahan menyisir kali mencari tempat yang cocok buat mancing, seraya mereka berbicara.
JOKO Bang Ayub, perkawinan itu tidak bermaksud menghapus kebiasaan-kebiasaan lama dan kesenangan-kesenangan yang sifatnya pribadi.... Bila perlu Bang Ayub ajak isteri menyenangi hobi Bang Ayub.
AYUB Saya tidak ingin isteri saya juga senang mancing. Bisa kacau nanti.
JOKO Maksud saya, kan bagus sekali-sekali ditemani isteri mancing. Sementara kita menunggu ikan menyambar kail kita, isteri kita duduk di dekat kita. Waduh, nikmat sekali Bang Ayub.
AYUB tertawa. JOKO tersenyum. Dia bandingkan dengan dirinya.
JOKO Saya juga punya isteri. Tapi Bang Ayub lihat, saya tetap Mas Joko seperti yang Bang Ayub kenal. Ya, kan?
AYUB diam tak mengiyakan.
JOKO Sepanjang saya melaksanakan kewajiban saya sebagai suami, tak saya biarkan isteri saya merubah kebiasaan-kebiasaan dan kesenangan-kesenangan saya.
AYUB tetap diam. JOKO tersenyum.
JOKO Saya mengerti masalahnya sekarang. Bang Ayub kalah wibawa dari isteri.
AYUB Kami selalu memutuskan segala sesua-tu secara musyawarah.
JOKO tertawa.
JOKO Itu kan istilah untuk menghibur diri dari orang yang selalu mengalah dan dikalahkan. Kalau kita hanya menja-lankan apa yang diputuskan orang lain bukan musyawarah namanya.
AYUB terdiam. Lalu JOKO berkata sungguh-sungguh.
JOKO Bang Ayub, dengar saya. Kadang-kadang suami itu harus memaksakan kehendak-nya.
AYUB tampaknya ‘termakan’ oleh hasutan rekannya ini.
53. EXT : RUMAH KELUARGA AYUB : MALAM
Tengah malam. AYUB memasuki halaman rumahnya menenteng joran dan beberapa ikan hasil pancingannya.
54. INT : RUANG TENGAH : MALAM
Pintu samping terbuka. AYUB masuk perlahan, tanpa menimbulkan suara, agar tak membangunkan isterinya. AYUB lalu ke ruang belakang untuk menaruh alat pancing dan ikan. Tapi kemudian........
ROS Bang!
AYUB terkejut. Ternyata isterinya sudah berdiri di ambang pintu kamar. AYUB berdiri kecut, bagai maling kepergok.
ROS Dari mana?
AYUB mencoba tersenyum seraya menunjukkan joran dan ikan yang masih dipegangnya.
ROS Mancing? Sama siapa?
AYUB Joko. Dia datang mengajak mancing.
AYUB lalu ke belakang menaruh joran dan pancing. ROS mengikutinya.
55. INT : RUANG BELAKANG : MALAM
AYUB meletakkan joran pancingnya di pojok ruangan.
ROS Tadi diajak Pak Bambang Abang kok nggak mau?
AYUB mengalihkan pembicaraan.
AYUB Ikan ini mau diapakan?
AYUB mengulurkan ikan. ROS tak segera menerima ikan yang ROS diulurkan suaminya.
ROS Saya heran. Diajak Pak Bambang katanya sibuk, tapi pergi juga dengan Joko.
AYUB Sekali-sekali saya kan ingin menikmati mancing yang sebenarnya. Pergi mancing dengan Pak Bambang maunya di tempat yang enak. Di kolam pemancingan. Itu nggak ada tantangannya.
Tampaknya ROS menerima alasan suaminya. Ketika AYUB kembali mengulurkan ikan, ia menerimanya.
AYUB kembali ke Ruang Tengah diikuti ROS yang menenteng ikan.
56. INT : RUANG TENGAH : MALAM
AYUB mengambil gelas di atas meja, menuang air putih.
ROS Kalau Abang ajak dia ke kali mungkin dia juga senang.
AYUB Kurang baik baginya. Banyak nyamuk dan kalajengking. Kadang-kadang juga ada ular.
ROS tertawa singkat.
ROS Abang mengada-ada.
AYUB Lho, benar itu.
ROS diam. AYUB meneguk air putih.
AYUB Sudahlah, tidak usah terlalu meng- khawatirkan Pak Bambang. Banyak hal yang bisa dilakukan orang seperti dia selain mancing.
ROS Yang saya khawatirkan kesannya pada Abang. Abang menolak pergi mancing dengannya karena alasan yang mengada-ada dan dia tahu itu.
AYUB Kan sudah saya katakan, saya tidak bisa berpura-pura senang dengan Pak Bambang hanya agar kau disenangi isterinya.
ROS Ya, kan? Abang kembali menduga sampai sejauh itu. Bukankah Abang pernah mancing dengannya? Dan Abang juga bilang orangnya baik, spontan, menyenangkan.....
AYUB Pak Bambang itu memang baik, menye-nangkan. Aku hanya ingin persahabatan yang tulus, tidak pura-pura, tidak bersangkut paut dengan kepentingan-kepentingan lain-nya.
ROS yang kaget melihat suaminya bisa berkata keras begitu sejenak melongo. Ia lalu memperhatikan ikan ditangannya.
57. INT : KAMAR : MALAM
Sementara itu PAK dan BU BAMBANG juga hendak beranjak tidur. Me reka membicarakan persoalan ROS dan suaminya AYUB.
PAK BAMBANG Aku rasa dia lagi ada masalah dengan isterinya. Waktu aku ajak mancing tadi, kelihatan sekali kalau mereka baru saja bertengkar.
BU BAMBANG terdiam.
PAK BAMBANG Coba, direm dulu usaha itu. Dik Ros jangan dibebani dengan tugas yang terlalu banyak. BU BAMBANG Ah, Bapak. Bapak terlalu membela dik Ayub.
PAK BAMBANG Bukan begitu. Kita menghindarkan jangan sampai keluarga mereka hancur. Apa senang usahamu maju tapi keluarga dik Ros berantakan?
BU BAMBANG terdiam. Betul juga, pikirnya.
58. INT : SHOWROOM : SIANG
ROS memperhatikan barang kerajinan yang terpajang. Di dekatnya seorang karyawan, PAK SLAMET, berdiri menunggu perintah. Lalu ROS menunjuk beberapa barang yang harus diganti dengan yang baru.
ROS Nah, yang ini, ini, dan itu juga, sudah harus diganti, Pak Slamet. O ya dan yang itu juga. Pak Slamet angkut saja ke gudang, nanti saya ke sana untuk memilih penggantinya.
PAK SLAMET Baik, Bu.
ROS Terus, soal pengepakan. Pak Slamet harus lebih teliti lagi. Yang kemarin itu ada beberapa gerabah yang pecah ketika sampai ke tujuan.
PAK SLAMET Pasti kerjanya si Udin. Dia memang kurang hati-hati.
ROS menoleh ke PAK SLAMET.
ROS Saya tahunya Pak Slamet. Pak Slamet kan yang mengawasi mereka.
PAK SLAMET jadi kecut.
PAK SLAMET Baik, akan saya perhatikan, Bu.
Seorang karyawan bernama NUNIK melintas.
ROS O ya, Nunik!
NUNIK berhenti.
NUNIK Ya, Bu?
ROS Saya sedang menunggu telpon dari Pak Gunadi. Nanti kalau sudah masuk cepat kasi tahu saya, ya?
NUNIK Baik, Bu.
NUNIK berlalu.
ROS Mm, bagaimana Pak Slamet?
PAK SLAMET Hanya yang empat itu yang diganti?
ROS Mm, Ya. Itu dulu.
PAK SLAMET hendak beranjak.
ROS O ya, Pak Slamet. Pengepakan untuk yang ke Australi itu supaya hati-hati dan teliti.
PAK SLAMET Ya, Bu.
ROS lalu beranjak, melongokkan kepalanya ke sebuah ruangan. Di dalam ada beberapa karyawan laki-laki termasuk ANDRE.
ROS Andre, siapkan photo-photo dari barang-barang yang terakhir masuk. Dan jangan lupa desain stand pameran kita.
ANDRE Baik, Bu.
NUNIK yang menjaga di depan/resepsionis muncul.
NUNIK: Telpon Pak Gunadi, Bu.
ROS Ya.
ROS bergegas ke ruang kerjanya.
59. INT : RUANG KERJA : SIANG
ROS masuk ke ruang kerjanya. Di situ ada BU BAMBANG di meja ker janya. Sedang nonton TV. ROS meraih telpon.
ROS O, Pak Gunadi? ------- Ya, ya, akan kami usahakan, Pak --------- Betul, pasti yang terbaik. Lagipula barang kami pasti yang terbaik, Pak. Per-tukaran barang kami hanya dua ming- gu, sehingga barang kami pasti yang terbaru ------ Kami tidak memakai perantara, kami pesan langsung ke pengrajin.
BU BAMBANG memperhatikan ROS yang menerima telpon dan bicara.
ROS O, yang itu? Memang trendnya yang begitu, Pak. Kita kan ngikuti yang di luar. Kita tidak hanya memesan, tapi juga memberikan desain pada pengrajin -------- O ya, ya, terima kasih.
ROS lalu menekan tombol menghubungi NUNIK di depan.....
ROS Nunik, hubungkan ke Bank, bikin janji dengan Pak Ismaun.
ROS meletakkan telpon dan bicara pada BU BAMBANG.
ROS Kalau tidak diingatkan pihak Bank suka lupa. Susah juga, Bu. Seharusnya mereka yang aktif. Katanya mau membina pengusaha kecil.
BU BAMBANG tersenyum. Ia betul-betul kagum pada ROS yang begitu gesit dan cekatan. Tapi, ia juga menghawatirkan hubungan ROS dengan suaminya.
Kemudian ROS bangkit dan melongokkan kepalanya ke luar dari pintu memanggil salah seorang karyawan.
ROS Andre! Ke sini sebentar!
Itulah beberapa adegan untuk menunjukkan betapa lincah dan trengginasnya ROS. Dan bagai antiklimaks pada scene berikut…..
60. INT : RESTO : SIANG
BU BAMBANG dan ROS baru saja selesai makan siang di sebuah restoran.
BU BAMBANG Kadang Ibu merasa terlalu membebani dik Ros dengan pekerjaan-pekerjaan yang tak habis-habisnya.
ROS tersenyum.
ROS Ini kan tugas saya, Bu.
BU BAMBANG Tapi, apakah tidak terlalu berat bagi dik Ros?
ROS kembali tersenyum.
ROS Saya menikmati pekerjaan saya, Bu.
BU BAMBANG Ibu pikir juga begitu. Dik Ros tidak kelihatan lelah dan capai. Lain dengan ibu, sedikit mikir saja sudah capek.
Lagi-lagi ROS tersenyum.
BU BAMBANG Tapi, apakah seharusnya dik Ros yang kerjakan semuanya?
ROS Maksud Ibu?
BU BAMBANG Mungkin kita perlu cari karyawan seorang lagi untuk membantu dik Ros.
ROS Itu terserah Ibu. Tapi kalau masih bisa dikerjakan oleh tenaga yang ada sebenarnya sih nggak perlu. Yaa, efisiensilah, Bu.
BU BAMBANG Mm, maksud saya, mungkin dik Ros ingin pulang lebih cepat ke rumah, punya waktu lebih banyak dengan keluarga atau....
ROS tertegun. Kenapa hal ini jadi soal bagi BU BAMBANG?
BU BAMBANG Ini pengalaman Ibu sendiri. Dulu ketika Ibu baru kawin, Bapak selalu uring-uringan bila Ibu tidak segera pulang ke rumah. Padahal sih, nggak ada tugas yang perlu ibu kerjakan. Semuanya sudah beres. Tapi begitulah, Bapak merasa tidak enak kalau Ibu nggak ada di rumah......
ROS terdiam. Mulai menduga-duga....
BU BAMBANG Seperti dik Ayub, Bapak kan hobinya mancing. Nah, kadang-kadang Ibu diajak ikut menemaninya mancing. Mancing itu kan pekerjaan paling membosankan. Bengong empat lima jam untuk beberapa ekor ikan kecil. Tapi ya namanya suami.....
ROS memaksakan diri untuk tersenyum. Kini ia mengerti arah pembicaraan BU BAMBANG. Ia diminta mengurangi kesibukan dan ini pasti atas permintaan suaminya sendiri, AYUB. Begitu dugaan ROS.
61. EXT : JALAN : SORE
AYUB menenteng tas kerjanya. Baru keluar dari kantor tempatnya bekerja, berjalan menuju halte kendaraan.
Sebuah taksi berhenti di belakangnya AYUB. ROS turun dari taksi.
ROS Bang!
AYUB menoleh. Heran melihat isterinya menjemputnya. AYUB lalu mendekat. Tahu-tahu.....
ROS Saya tidak senang cara seperti ini.
Tentu saja AYUB terheran-heran.
AYUB Ada apa?
ROS Kenapa sih pake mengadu segala ke Pak Bambang? Kalau tidak senang saya kerja, bilang langsung ke saya.
AYUB celingak-celinguk, khawatir pembicaraannya didengar oleh orang sekitar. Tapi tempat mereka agak jauh dari orang lain. AYUB Lho, ada apa ini? Datang-datang kok....
ROS menyela....
ROS Abang bilang apa pada Pak Bambang?
AYUB Nah lho, Pak Bambang lagi....Saya semakin tidak mengerti...
CUT TO
Ternyata JOKO memperhatikan dari seberang jalan.
CUT TO
AYUB belum menyadari JOKO yang memperhatikan dari seberang jalan.
ROS Abang jangan pura-pura nggak ngerti.
AYUB Sungguh mati saya nggak ngerti. Makanya bicara yang jelas.
ROS Abang meminta Pak Bambang campur tangan dalam masalah kita.
Kini AYUB melihat JOKO yang memperhatikannya. Maka AYUB menggamit lengan isterinya.
AYUB Oh, ini tuduhan serius. Tapi kita bicarakan di rumah. Di sini tidak aman.
62. INT : KAMAR : MALAM
AYUB dan ROS yang baru pulang kerja memasuki kamar. ROS langsung mencecar, sementara AYUB langsung bertukar pakaian dengan kaos oblong dan sarung.
ROS Abang pasti mengadu ke Pak Bambang, lalu Pak Bambang bilang ke Bu Bambang.
AYUB Kau menuduh saya mengadu ke Pak Bambang agar meminta Bu Bambang memberhenti-kanmu?
ROS Kurang lebih begitu!
AYUB Begitu kata Bu Bambang?
ROS Tidak.
AYUB Iya, kan? Itu prasangkamu saja.
ROS Dia tidak mengatakannya, tapi saya me-ngerti, itu akibat intervensi Abang pada Pak Bambang.
AYUB Saya bilang jangan berprasangka.
ROS Itu buktinya.
AYUB Untuk lebih jelasnya, tanyakan pada Bu Bambang. Jangan main duga-duga.
ROS Tentu saja Bu Bambang tak akan mengaku.
AYUB Lalu saya yang harus mengaku? ROS Benar, kan?
AYUB Sudahlah, saya lapar, saya mau makan.
AYUB beranjak keluar kamar.
ROS Benar, kan?
ROS mengikuti AYUB keluar.
63. INT : RUANG TENGAH : MALAM
AYUB menuju meja makan. Sementara ROS terus mencecar.
ROS Benar kan, Bang?
AYUB Sudah, jangan berprasangka. Sebagian prasangka itu dosa.
AYUB membuka tutup saji di meja makan. Makan malam sudah siap. AYUB duduk. ROS terus menuntut suaminya mengaku.
ROS Kenyataannya? Itu kan yang Abang tuntut dari saya....?
AYUB Stop dulu. Kalau mau berantem, sebentar saya layani. Tapi sekarang saya lapar, mau makan dulu. Biar ada tenaga buat meladenimu.
Tentu saja AYUB bercanda. Ia mengangkat mangkuk sayur, menyendok...Tapi ROS terus saja mencecar...
ROS Abang keterlaluan. Membongkar rahasia keluarga sendiri pada orang lain.
Tiba-tiba........."Bruk!!!" AYUB membanting menengku-rapkan mangkok sayur yang dipegangnya ke meja.
AYUB Ros! Kalau kita bertengkar terus, kapan saya makan?!
ROS ternganga. Tak menduga suaminya semarah dan sekalap ini. AYUB sendiri tertegun sejenak. Heran mendapati dirinya bisa semarah itu. Lalu....
AYUB Sekarang boleh saya makan?
ROS lalu masuk ke kamar. AYUB yang hendak mulai makan kecut melihat keadaan meja makan yang berantakan karena ulahnya sendiri.
AYUB jadi tak berselera makan. Malah tercenung di hadapan meja makan yang berantakan.
64. INT : KAMAR : MALAM
ROS yang sedang membuka lemari mengambil pakaian untuk ganti, tiba-tiba termangu. Pikirnya, jangan-jangan suaminya benar, ia terlalu berprasangka.
65. INT : RUANG TENGAH : MALAM
Di ruang tengahpun AYUB masih tercenung. Dia tidak makan. Masih heran pada dirinya yang bisa marah sedemikian rupa. Lalu AYUB bangkit, merapikan meja makan, mengumpulkan pecahan mangkuk sayur.
ROS keluar, melihat ke suaminya yang membersihkan meja. AYUB menoleh, mereka berpandangan. Saling diam.
FADE OUT
66. INT : RUANG TENGAH : SORE
ROS berkunjung ke rumah BU BAMBANG. BU BAMBANG dan ROS duduk santai di sofa.
ROS Mm…, apakah suami saya yang minta agar Ibu meminta saya mengurangi kesibukan saya?
BU BAMBANG Nggak.
ROS Mungkin dia bilang pada Bapak....
BU BAMBANG Nggak. Itu pikiran Ibu sendiri. Ibu kasihan pada dik Ros yang kehilangan kesempatan buat bermesra-mesraan de-ngan suami.
ROS tersipu.
ROS Kami sudah menikah satu tahun.
BU BAMBANG yang tersenyum.
BU BAMBANG Itulah, baru satu tahun.
Kembali ROS tersipu.
BU BAMBANG Pengalaman Ibu dulu ketika baru kawin, biasanya kalau baru kawin pasangan suami isteri ingin lebih banyak waktu bersama. Tingkat saling membutuhkan dan memer-lukan itu tinggi walaupun untuk hal-hal yang spele. Misalnya saja Ibu dulu, dengan senang hati Ibu memasangkan dan membukakan sepatu atau dasi Bapak. Itu membuat Ibu harus ada di rumah ketika Bapak pergi atau pulang tugas.
BU BAMBANG lalu tertawa renyah.
BU BAMBANG Padahal Bapak kan bisa memasang sepatu atau dasi sendiri. Tapi Bapak menikmati pelayanan seperti itu, begitu juga Ibu, menikmati melayani seperti itu.
Lalu BU BAMBANG tertawa.
BU BAMBANG Tapi bagi keluarga sekarang mungkin nggak begitu, ya? Cara mewujudkan kasih sayang antara suami isteri mungkin lain. Atau mungkin hal itu dianggap penjajahan lelaki terhadap perempuan.
ROS kembali tersenyum.
BU BAMBANG He, dik Ros. (BERBISIK) Tapi sekarang Ibu tak melakukan itu lagi. Males.
Lantas BU BAMBANG tertawa. PAK BAMBANG keluar dari kamar.
PAK BAMBANG Ada yang lucu?
BU BAMBANG dan ROS menoleh. Mereka senyum-senyum.
67.EXT/INT : SUATU TEMPAT : SIANG
Berikut ini rangkaian adegan yang menunjukan rasa bersalah pada diri AYUB lewat penglihatan dan perenungan AYUB terhadap pemandangan yang menunjukkan kemajuan perempuan. Dimana pengertian kemajuan dalam adegan ini bisa diperdebatkan. Tapi itu tidak penting.
Mulai dengan AYUB yang nongkrong di halte bis.
AYUB melihat kemajuan kaum perempuan. Para perempuan yang berebutan (dengan kaum lelaki) naik ke bus kota. Ada suara yang melatarbelakangi adegan.
SUARA Ayub, lihatlah itu. Mereka perempuan seperti isterimu.
CUT TO
Pemandangan berikutnya, POLWAN yang berkeringat mengatur lalu lintas di jalan.
SUARA Yang itu juga, Yub. Bagaimana penda-patmu?
CUT TO
Lalu di Mall, serombongan remaja putri yang bergerak bebas, ceria, dengan kostum yang penuh ‘kemajuan’,
dimana mereka begitu bebas memperlihatkan puser mereka.
SUARA Yang ini? Aha……. Jangan terkejut, Yub.
CUT TO
Para TKW yang sedang digiring masuk ke dalam Airport.
SUARA Bahkan yang ini. Dalam kelemahan mereka, mereka mempertunjukan kehebatan mereka yang seharusnya membuat kaummu malu, Yub. Malu!
CUT TO
Para perempuan penjaja diri di pinggir jalan, di malam hari.
SUARA Ini juga. Yub, jangan bengong.
CUT TO
Terakhir di pertokoan AYUB tertumbuk(pandangannya) pada gambar di televisi, Presiden(Megawati) sedang berpidato.
AYUB Diapun seorang perempuan, Yub….
Akhirnya AYUB menjawab dengan kata hatinya.
AYUB Ya ya, saya tahu.
SUARA Apapun alasannya kau tak bisa mencegah mereka. Mereka semua sedang bergerak, melaju, merebut apa yang layak mereka dapatkan. Jangan coba-coba menghalangi, Yub.
AYUB Saya tidak menghalangi.
SUARA Apa-apaan kau membanting mangkok sayur di depan isterimu?
AYUB Oh itu? Saya lapar, sementara isteri saya mengajak bertengkar.
SUARA (TERTAWA) Bukan itu masalahnya.
AYUB Cuma itu.
SUARA Kau cemburu.
AYUB Itu kejadian biasa saja. Toh saya juga yang membersihkan meja makan itu, lalu ngepel lantainya sampai bersih.
SUARA O ya? Bagus sekali.
AYUB Ya kan? Kalau ada lelaki yang cemburu dengan kemajuan kaum perempuan bukan saya orangnya.
SUARA Bener?
AYUB Bener. Suwer.
CUT TO
Dan kemudian kembali ke adegan AYUB duduk tercenung di halte bus. Tercenung lama setelah mengembara dengan pikirannya.
68. INT : SUPERMARKET : SORE
Sementara ROS mendorong kereta belanjaan membeli keperluan dapur, antara lain daging bumbu-bumbu dan sayur-mayur. Ia hendak memasak nanti. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukannya.
69. INT : DAPUR : SORE
ROS sedang meracik dan mengulek bumbu. Karena memang tidak biasa masak, ia sekali-kali melihat buku resep masakan yang terbuka di dekatnya.
70. EXT : RUMAH KELUARGA AYUB : SORE
AYUB melangkah masuk ke rumahnya. Langkah yang murung.
71. INT : DAPUR : SORE
Adegan di scene ini paling penting. Isi cerita ini ada di sini. Mereka, Ros dan Ayub menyatakan posisi mereka masing-masing.
ROS menuang racikan bumbu ke dalam panci di atas kompor, mengaduk sebentar.
ROS lalu ke meja, kini menyiapkan sayur mayur, memo-tong-motong sayur.
AYUB muncul di ambang pintu. ROS menoleh, tersenyum.
ROS Saya coba masak.
AYUB diam saja. Wajahnya kaku dan murung. ROS menambah-kan....
ROS Sop buntut kesukaan Abang.
AYUB masih diam saja. Karena suaminya diam saja, ROS yang sedang mengiris-niris sayur memandang suaminya. ROS menangkap wajah murung suaminya.
AYUB lalu beranjak mendekat.......
AYUB Bagaimana menurutmu perkawinan yang sudah satu setengah tahun ini?
ROS terkejut mendengar pertanyaan suaminya. Seraya bicara ROS mendekati kompor untuk mengaduk sop buntut di dalam panci. ROS Kalau memang ada problem di antara kita, saya kira itu wajar. Setiap keluarga punya masalah.
AYUB Kau menolak kenyataan bahwa kau tak berbahagia bersama saya.
ROS tak segera menanggapi. ROS menyendok kuah, mencicipi. Kening ROS berkerut merasakan rasa sayur yang aneh, tak sesuai dengan yang dibayangkannya. Lalu seraya bicara ROS ke meja.
ROS Baiklah, ini soal pertengkaran yang kemarin, waktu saya membuat Abang kesal dan akhirnya Abang membanting mangkuk sayur itu.....
AYUB menggeleng.
AYUB Tidak.
ROS memperhatikan buku resep, barangkali ada bumbu yang kelupaan.
ROS Saya lupa minta maaf pada Abang.
AYUB tersadar.
AYUB Oh ya, saya yang minta maaf.
ROS tersenyum. AYUB beranjak duduk di seberang isterinya.
ROS O ya, kadang-kadang saya juga tidak sabaran, cepat marah. Mungkin karena pekerjaan di kantor. Saya setuju, saya akan mengurangi kesibukan saya. Bahkan saya sudah bilang pada Bu Bambang.
AYUB terkejut juga, tak menyangka isterinya telah mengambil langkah-langkah sejauh itu.
AYUB Saya tidak pernah memintamu mengurangi kesibukanmu. Saya mengerti, itu duniamu. Bukan seperti sekarang ini, di dapur memasak dengan berkali-kali membuka buku resep masakan.
ROS kecut mendengarnya. Ada senyum kecil di wajahnya. Maka ia berhenti memperhatikan buku resep. Buku resep ditutupnya. Ia kembali mengiris sayuran.
AYUB Ros, sayalah yang kurang bisa menye-suaikan diri. Saya begitu menjengkelkan, tidak bisa diajak maju, kampungan, rada norak, rada.....
Tangan ROS berhenti mengiris sayur. Ia mengangkat muka memandang suaminya. Bicara sungguh-sungguh....
ROS Bang, apa yang Abang katakan itu tidak ada satupun yang benar.
AYUB Bukankah saya begitu kampungan?
ROS Apakah saya pernah mengatakan begitu?
AYUB Tapi, rasanya saya memang kampungan.
ROS Terserah penilaian Abang terhadap diri Abang sendiri. Tapi saya tak pernah menganggap Abang begitu.
AYUB memandangi isterinya.
AYUB Kau tahu, saya memelihara ayam, dan itu sering menjengkelkanmu.
ROS Menjengkelkan? O ya, hanya karena Abang lebih memperhatikan ayam-ayam itu diban-dingkan saya.
AYUB tertegun, terdiam. Betulkan ia kurang memperhati-kan isterinya? Lebih memperhatikan ayam-ayamnya?
AYUB Bukankah kau pernah bilang lebih baik memelihara anjing?
Maka ROS pun mencoba bercanda.
ROS Ketika itu saya lupa, seperti kata Abang, anjing tidak bisa bertelur.
AYUB senyum kecut. Terdiam. Mencari kata-kata yang tepat.
AYUB Tapi, yang mungkin paling membuatmu kesal, saya tidak pernah bisa masuk bergaul dengan teman-temanmu.
ROS Dulunya, ya. Akhirnya saya pikir itu malah bagus. Pulang ke rumah saya mendapati orang yang berbeda dari yang saya temui di luar.
AYUB Tapi, mm....
AYUB tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia kehabisan bahan. Ia terdiam. Akan halnya ROS, ia tercenung.
Dan lalu AYUB mengatakan.
AYUB Saya tidak mau menjadi penghalang kemajuanmu.
Dan jawaban ROS adalah…..
ROS Saya tahu, Abang hanya mencari-cari alasan untuk menunjukkan bahwa Abanglah yang salah.
ROS merasa sedih mendapati kenyataan bahwa suaminya amat menderita bersamanya selama ini (seharusnya Ros cuwek aja, ya?).
ROS Yang sebenarnya, Abang yang sudah nggak tahan lagi bersama saya. Iya, kan?
Lalu ROS merasa matanya membasah.
AYUB membisu. AYUB memandang sekilas isterinya yang menitikkan air mata dan menghapus air matanya dengan jemarinya.
ROS Terserah Abang. Kalau Abang memang ingin kita bercerai, kita bercerai.
Air mata ROS makin deras. Suaranyapun sedikit serak.
ROS Saya memang bodoh, naif. Saya pikir apa yang menurut saya baik juga baik bagi Abang. Saya tidak sadar telah menyulitkan Abang, membuat Abang menderita....
AYUB terpaku mendengar pengakuan isterinya.....ROS memandangi suaminya seraya menghapus air matanya. Beberapa saat mereka saling diam.
ROS Maafkan saya.....
AYUB menggeleng-geleng, menunjukkan dialah yang salah.
AYUB Saya yang minta maaf. Saya ini begitu…
AYUB tak mampu meneruskan kata-katanya. Sebab ia juga mulai menitikkan air mata.
Mereka lalu tertegun, saling pandang dengan mata yang membasah…… beberapa saat…… dan tiba-tiba, ketika mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya begitu saling mencintai, mereka tak tahan lagi, tak mampu menguasai diri, saling berhamburan dan saling berpelukan seraya terisak….
ROS Maafkan saya……
AYUB pun makin terisak….
AYUB Saya yang minta maaf…… Saya hanya bisa mencintaimu sebatas yang saya mampu……
ROS Itu cukup bagi saya……
FADE OUT
PENUTUP
Ditutup dengan narasi atau teks….
NARASI/TEKS Esoknya Ros bekerja seperti biasanya. Ayub juga, tetap dengan kesibukannya memelihara ayam dan sesekali pergi mancing dengan Pak Bambang maupun Mas Joko. Dua tahun kemudian mereka mempunyai anak. Meskipun begitu Ros tetap bekerja karena Ayub dengan senang hati mengurus bayi mereka. Ros cukup bertangung jawab. Ia selalu meninggalkan ASI buat bayinya di kulkas.
( T A M A T )
 | Wow...jadi begini yah cara nulis skenario...i get the feeling. Cukup simple tap kena. Belajarnya berapa tahun yah.. |
 | Saya belajar nulis skenario tahun 86. sudah lahir belum? yang ngajarin Asrul Sani, Teguh Karya, Ami Priyono, Tatik Malyati Sihombing, Emha Ainun Najib, Bakdi Sumanto, Ashadi Siregar, dan beberapa orang yang, maaf, saya lupa. Terima kasih kepada Pak Ishadi SK yang telah mengadakan sanggar kerja total penulisan skenario di TVRI Sta.Yogyakarta. |
 | kalau saya nulis skripnya ga pake zoom in-zoom out ga apa apa?..saya cuma nulis tempat, lokasi, action serta dialognya...soalnya saya kan belajarnya otodidak dan pemula..dan masih meraba-raba gaya menulis skenario film Indonesia... |
 | wah, oke juga pak nulis skenario di sini. Saya jadi bisa belajar nih... Makasih... |
 | hendra gustar... bapak yth terima kasih ya telah membuat situs ini, banyak sekali membantu.
bapak bisa ga' menampilkan skenario naga bonar jadi 2 atau kiamat sudah dekat. karena saya ingin melihat bentuk skenario dengan filmya. terima kasih. |
 | asalamualikum terimakasih karena adanya situs ini, karena banyak sekali membantu.
saya baru belajar jd penulis skeenario film, bisa ga pak saya minta skenario film naga bonar jadi 2 atau kiamat sudah dekat. agar saya bisa tahu bentuk dari skenario dan bentuk filmnya. terima kasih, hendra gustar |
 | Insya Allah skenario film Kiamat Sudah Dekat dan film Ketika akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh Pak Deddy Mizwar.
Skenario Nagabonar Jadi 2 belum bisa dipublikasikan. |
 | Wah mass terima kasih yah... semoga anda dalam lindungan allah .. sealu.. sedah lama neeh cari. contoh skenario dan baru sekarng aku nemu.. makasih yah mas... |
 | madruzza wrote on Nov 12, '07, edited on Nov 12, '07 wah bagus mas skenarionya lucu tapi juga membuat terenyuh kaya' nagabonar jadi 2. kalo endingnya dibuat menghentak spt maskannya gosong atau masak gimana? udah sedih malah kebingungan jadi sedihnya sedih tersenyum |
 | Gmna ya mas nulis skenario yg bagus... Thk u.. |
 | jangan bosan, menulis terus menerus. dan tambah wawasan tentang apa saja. |
 | saya lagi menulis skenario mas tapi saya kadang bingung mengapa dialog yang saya buat terkesan garing atau basi sebenarnya menulis dialog yg cerdas harus gmn? TRMksh... |
| |